Mamuju, Mesakada.com — Kasus Tuberkulosis (TBC) di Sulbar pada Februari 2026 meningkat 8 persen. Dari total estimasi 4.357 kasus TBC pada 2026, sebanyak 595 kasus atau 13,7 persen berhasil ditemukan dan ditangani. Angka ini mendekati target pencapaian bulanan sebesar 15 persen.
Data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar mencatat, dua kabupaten bahkan telah melampaui target nasional, yakni Mamuju dengan capaian 21,4 persen dan Majene sebesar 19,2 persen.
Kepala DKPPKB Sulbar, Nursyamsi Rahim menilai, peningkatan angka penemuan kasus menjadi indikator membaiknya sistem deteksi dini di lapangan.
“Semakin banyak kasus ditemukan, semakin cepat kita bisa melakukan pengobatan dan mencegah penularan lebih luas. Ini menunjukkan upaya skrining dan pelacakan kasus berjalan lebih optimal,” kata dr Nursyamsi, Rabu (25/3/2026).
Secara spesifik, kata dia, Majene mencatatkan peningkatan tertinggi dengan lonjakan 44 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Mamuju dan Polewali Mandar (Polman) juga mengalami kenaikan masing-masing sebesar 10 persen dan 13 persen.
Namun, sejumlah wilayah masih menghadapi tantangan. Penemuan kasus di Mamasa, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu justru mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.
Pemprov Sulbar menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam memperkuat strategi penemuan kasus aktif melalui peningkatan pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan maupun di tingkat masyarakat.
Upaya penanganan TBC ini juga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan kesehatan daerah yang sejalan dengan visi Panca Daya Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, dalam mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Selain itu, program ini juga terintegrasi dalam prioritas nasional melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
DKPPKB Sulbar menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan capaian penemuan kasus serta memastikan seluruh pasien mendapatkan pengobatan hingga sembuh, sebagai langkah menuju eliminasi TBC secara bertahap. (ajs)





