Mamuju, Mesakada.com — Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK), menyoroti adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang masih menyalahkan keadaan, pemerintah, maupun pihak lain atas kondisi kemiskinan yang dialami.
Menurut SDK, kemiskinan tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan pola pikir dan sikap dalam menghadapi tantangan hidup. Ia menilai masih ada sebagian masyarakat yang menginginkan hasil instan tanpa melalui proses yang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Kadang ada yang tidak mau melalui proses. Ketika diberikan bibit atau bantuan produktif, yang diinginkan adalah hasil yang instan. Mereka tidak mau bersusah payah terlebih dahulu dan enggan mengambil risiko,” kata SDK, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, kecenderungan untuk menyalahkan keadaan dan menunggu bantuan justru dapat menghambat upaya keluar dari kemiskinan. Menurutnya, sebagian masyarakat masih memilih bertahan di zona nyaman meskipun hidup dalam keterbatasan, dibanding berupaya mencari peluang untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Karena itu, SDK menegaskan bahwa pekerjaan pemerintah tidak hanya sebatas menyalurkan bantuan sosial atau program pemberdayaan masyarakat. Lebih dari itu, pemerintah juga harus mendorong perubahan pola pikir agar masyarakat memiliki semangat untuk berkembang dan mandiri.
“Pekerjaan kita sesungguhnya bukan sekadar menyalurkan bantuan, tetapi bagaimana mengubah kondisi dan pola pikir tersebut,” ujarnya.
Dalam upaya menekan angka kemiskinan, SDK mengatakan pemerintah harus melakukan intervensi secara serius pada sektor-sektor yang berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, seperti pertanian, perikanan, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
Ia menambahkan, setiap penurunan angka kemiskinan memiliki dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, penurunan kemiskinan sebesar 0,6 persen berarti puluhan ribu warga berhasil keluar dari kategori miskin dan mengalami peningkatan kualitas hidup.
“Kalau angka kemiskinan turun, itu berarti banyak keluarga yang kualitas hidupnya membaik. Sebaliknya, kalau kemiskinan meningkat, persoalan sosial yang muncul akan semakin besar,” tuturnya. (*)







