Mamuju, Mesakada.com — Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Sulbar, Suhardi Duka (SDK), mengaku kesulitan menentukan satu nama calon Wakil Gubernur Sulbar dari dua kandidat yang telah mengerucut dalam proses penjaringan internal Partai Demokrat Sulbar.
SDK mengatakan, dirinya telah membentuk tim untuk melakukan wawancara dan penilaian terhadap sejumlah calon. Dari proses tersebut, tim merekomendasikan dua nama, yakni Fatmawati Salim dan Syamsul Samad.
Menurut SDK, memilih salah satu di antara keduanya bukan perkara mudah. Ia menilai kedua nama memiliki pertimbangan yang sama kuat sehingga membuatnya berada dalam posisi yang sulit.
Di satu sisi, Fatmawati Salim dinilai layak dipertimbangkan sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum Salim S. Mengga yang memiliki kedekatan dan sejarah perjuangan bersama dirinya. Meski bukan kader Demokrat, faktor tersebut menjadi pertimbangan penting dalam proses penentuan calon.
Namun di sisi lain, SDK juga merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kaderisasi partai. Karena itu, nama Syamsul Samad sebagai kader Demokrat tidak bisa diabaikan begitu saja. Menurutnya, partai politik harus tetap memberi ruang dan kesempatan kepada kader yang telah berproses di internal partai.
“Pertimbangannya kenapa Fatma, kita harus hormati almarhum salim dengan saya. Walaupun dia bukan kader. Terus kenapa saya tidak putuskan ibu Fatma saja, kita juga harus tahu kalua kita berpartai, dengan demikian kita tidak boleh buang kader,” kata SDK, Kamis (4/62026).
SDK menyebut posisinya benar-benar berada di tengah. Jika hanya mempertimbangkan satu aspek, keputusan mungkin lebih mudah diambil. Namun karena kedua kandidat memiliki keunggulan masing-masing, ia mengaku tidak sanggup menentukan pilihan sendiri.
Ia bahkan menyebut peluang Fatmawati Salim dan Syamsul Samad saat ini berada pada posisi yang sama kuat atau “fifty-fifty”. Kondisi itulah yang membuatnya enggan mengambil keputusan secara sepihak.
Padahal, DPP Partai Demokrat sebelumnya telah memberikan kewenangan kepada dirinya untuk menentukan satu nama yang akan diusulkan. DPP mengira hanya akan ada satu kandidat yang muncul dari proses penjaringan di tingkat daerah.
“Terus terang tidak bisa saya putuskan. Berat bagi saya,” sebut SDK.
Namun setelah tim menyerahkan dua nama dengan pertimbangan yang sama kuat, SDK memilih menyerahkan keputusan akhir kepada DPP Demokrat. Ia menegaskan keputusan tersebut diambil karena beratnya menentukan pilihan antara menghormati jasa almarhum Salim S. Mengga dan menjaga komitmen terhadap kader partai. (ajs)







