Mamasa, Mesakada.com — Program pemeliharaan jalan menggunakan metode slurry seal di Kabupaten Mamasa menjadi sorotan setelah muncul dugaan kerusakan pada ruas jalan yang baru selesai dikerjakan. Aktivis menilai hasil pekerjaan tidak sesuai harapan karena permukaan jalan disebut sudah kembali berlubang hanya sehari setelah pelaksanaan.
Sorotan itu muncul di tengah pelaksanaan proyek slurry seal yang dikerjakan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Wilayah II Sulawesi Barat melalui PPK 2.4 Mamasa–Batas Provinsi Sulawesi Selatan. Program tersebut bertujuan menutup pori-pori dan retakan halus pada permukaan jalan agar umur layanan jalan lebih panjang.
Aktivis Mamasa, Efsan Bongga Bulawan mengaku, jalan yang baru ditutup menggunakan slurry seal sudah kembali mengalami kerusakan di sejumlah titik. Menurutnya, kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan yang dikerjakan.
“Yang kami tahu sedikit bahwa slurry seal itu adalah penutupan di atas permukaan beton ataupun aspal supaya permukaannya rata. Tapi pekerjaan yang sudah kami pantau ini, baru satu hari ditutup sudah banyak yang lubang-lubang. Jadi kami mempertanyakan program ini sebenarnya untuk apa,” kata Efsan.
Ia menilai apabila kerusakan sudah muncul dalam waktu singkat, maka manfaat proyek tersebut patut dipertanyakan. Bahkan, menurutnya, jika dibiarkan, jalan akan kembali rusak dalam beberapa hari ke depan.
“Kita lihat banyak lubang-lubang yang kembali muncul. Ini baru satu hari berjalan, bagaimana kalau berhari-hari ke depan. Jangan sampai hanya dinikmati satu sampai dua jam atau sesaat saja,” ujarnya.
Efsan itu juga meminta pemerintah melakukan investigasi terhadap kualitas pekerjaan. Ia menegaskan pihaknya akan terus mengawal proyek tersebut apabila tidak ada tindak lanjut dari pemerintah.
“Jadi mohon diperhatikan pemerintah supaya ini ditindaklanjuti, diinvestigasi bagaimana kemudian proyek ini betul-betul bisa berjalan dengan baik. Karena kami aktivis Mamasa akan terus mempersoalkan ini kalau hal seperti ini tetap dibiarkan,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan mutu pekerjaan yang dinilai hanya sebatas tambalan di permukaan jalan.
“Nah ini sudah banyak kembali yang lubang. Jadi kita mau bertanya kualitasnya yang mana? Yang kita lihat ini hanya ada tempel-tempelan. Apakah memang proyek ini hanya untuk tempel-tempelan saja? Kalau berbicara kualitas, sekiranya tidak layak dikatakan punya kualitas yang bagus,” katanya.
Sementara itu, Pengawas Lapangan BPJN Wilayah II Sulbar PPK 2.4 Mamasa–Batas Provinsi Sulawesi Selatan, Demmalino menjelaskan, pekerjaan yang dilakukan merupakan program slurry seal untuk memperbaiki kondisi permukaan jalan yang mulai mengalami kerusakan ringan.
“Tujuan kami untuk memperbaiki jalan yang sudah terbuka pori-porinya. Saat ini kami melaksanakan slurry seal untuk penutupan pori-pori beton jalan,” ujar Demmalino.
Ia menjelaskan pekerjaan tersebut dikerjakan sepanjang 800 meter, dimulai dari dekat Kantor DPRD Mamasa hingga ujung kota. Menurutnya, metode yang digunakan adalah slurry seal tipe 3 dengan ketebalan 9 milimeter sebagai lapisan penutup permukaan jalan yang telah mengalami retak halus dan pori-pori terbuka. (*)







