Mamuju, Mesakada.com — Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tak banyak anak muda yang memilih kembali menapak pada akar tradisi. Namun di Sulawesi Barat, nama Abdi Latief justru hadir sebagai pengecualian, menggabungkan kerja intelektual dengan gerakan nyata di lapangan.
Dikenal melalui kiprahnya di Malaqbi Institute dan kolektif Pitu Sinema, Abdi tidak berhenti pada wacana. Ia aktif menjembatani gagasan dengan praktik, mulai dari riset potensi bahari hingga upaya memperkuat kesejahteraan petani lokal.
Momentum penting hadir tahun ini saat ia menjadi motor di balik Festival Wastra Sulawesi Barat 2026 yang digelar pada 17–19 April 2026. Melalui festival ini, Abdi mengonsolidasikan perajin, kolektor, dan pegiat seni untuk mengangkat kembali martabat kain tradisional Mandar dan Kalumpang ke panggung yang lebih luas.
Bagi Abdi, festival bukan sekadar perayaan visual. Ia adalah pernyataan sikap—bahwa wastra seperti Tenun Sekomandi memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas, yang bisa menjadi fondasi kemandirian daerah.
Komitmennya juga terlihat dalam upaya pendokumentasian warisan budaya. Ia meyakini identitas Sulawesi Barat tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga dalam artefak—mulai dari peninggalan neolitik di Kalumpang hingga motif-motif kuno yang menyimpan jejak peradaban.
Di luar isu tradisi, Abdi menjadi penggerak ekosistem kreatif di Mamuju. Lewat kelas film dan produksi konten digital, ia mendorong generasi muda untuk berani menceritakan daerahnya sendiri. Baginya, teknologi bukan ancaman, melainkan alat untuk memperkuat narasi lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional.
Dengan kerja sunyi namun konsisten, Abdi Latif menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari pusat kekuasaan. Ia tumbuh dari komunitas, dari kolaborasi, dari gagasan yang dirawat, dan dari keyakinan bahwa identitas lokal adalah kekuatan, bukan beban. (*)







