Mamuju, Mesakada.com — Pemkab Mamuju terus memperkuat komitmennya dalam mendorong transformasi sektor kelautan berbasis inovasi dan teknologi. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi visi pembangunan “Mamuju Keren”, khususnya dalam penguatan ekonomi biru atau blue economy yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bersama tim peneliti dari Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Puslitbang Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil, yang turut melibatkan kolaborasi dengan tim riset internasional dari Australia.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Pimpinan Lantai I Kantor Bupati Mamuju ini diterima langsung oleh Wakil Bupati Mamuju, Yuki Permana, serta dihadiri Asisten II dan jajaran Dinas Kelautan dan Perikanan.
Dalam forum tersebut, tim peneliti memaparkan riset bertajuk Technology Digital Tools for Seaweed Farm Management and Monitoring (SeaTech). Riset ini dipresentasikan oleh Prof. Dr. Nurjannah Nurdin bersama timnya.
Nurjannah menjelaskan, riset tersebut mengintegrasikan teknologi mutakhir dengan pendekatan berbasis data presisi tinggi untuk mendukung pengelolaan budidaya rumput laut.
“Data yang dihasilkan memiliki tingkat akurasi tinggi dan akan diakumulasi dalam sebuah dashboard Mamuju, berupa aplikasi real-time yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, pemerintah daerah, maupun sektor swasta dalam pengambilan keputusan,” jelasnya.
Ia menambahkan, implementasi awal riset ini difokuskan di Desa Tadui, yang merupakan salah satu kawasan strategis budidaya rumput laut di Mamuju. Wilayah ini memiliki potensi lahan yang luas dan telah masuk dalam program Kampung Budidaya Rumput Laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Asisten II Setda Mamuju, Jufri Badau, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, pendekatan berbasis riset dan teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas sektor kelautan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
“Kami melihat ini sebagai langkah konkret dalam mewujudkan ekonomi biru di Mamuju, dengan tetap menjaga ekosistem pesisir,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Mamuju, Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa hasil riset ini akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan berbasis data (evidence-based policy).
“Teknologi digital seperti SeaTech akan menjadi terobosan dalam sistem monitoring dan manajemen budidaya. Ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memastikan pengelolaan sumber daya laut yang lebih terukur dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Lebih jauh, pengembangan sektor rumput laut di Mamuju tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan pada hilirisasi dan penguatan ekonomi kreatif berbasis kelautan. Sejumlah produk olahan seperti brownies, bakso, hingga kerupuk berbahan dasar rumput laut mulai dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah.
Dengan siklus panen yang relatif singkat, sekitar 1,5 hingga 2 bulan, komoditas unggulan seperti Eucheuma cottonii dan Gracilaria sp. dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.
Melalui kolaborasi riset internasional ini, Pemkab Mamuju semakin menegaskan posisinya sebagai daerah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus konsisten mendorong pembangunan sektor kelautan yang modern dan berkelanjutan. (*)






