Mamasa, Mesakada.com — SMA Kristen Ethnos mencatat sejarah baru dengan menggelar penamatan angkatan pertama pada 20 Mei 2026. Sebanyak 10 siswa dinyatakan lulus dan langsung diberangkatkan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri di bidang elektronika dan teknologi.
Upacara penamatan berlangsung di Dusun Rantesepang, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa. Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta orang tua siswa.
Hadir mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat, Pengawas SMA/SMK Mamasa David P, Anggota DPRD Sulbar Suhadi Kandoa, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mamasa Albert, Kepala Dinas Pariwisata Mamasa Arvin Ital Putra, Koordinator Pendidikan Wilayah Balla Daniel, Camat Balla, Kepala Desa Balla, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Suhadi Kandoa menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan sekolah yang baru berdiri sejak 2023 tersebut. Menurutnya, penamatan angkatan pertama ini menjadi tonggak sejarah bagi dunia pendidikan di Kabupaten Mamasa.
Ia juga menyampaikan tiga pesan kepada para lulusan. Pertama, para siswa diminta menjadi duta Mamasa dan Indonesia di tingkat global. Kedua, para lulusan diharapkan belajar dengan tujuan kembali membangun daerah, khususnya dalam pengembangan industri kreatif, infrastruktur digital, dan penciptaan lapangan kerja di Mamasa.
“Pemerintah daerah dan DPRD siap membuka ruang bagi kalian saat kembali nanti,” kata Suhadi Kandoa.
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga karakter, nilai iman, dan budaya Toraja Mamasa yang telah ditanamkan selama menempuh pendidikan di SMA Kristen Ethnos. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah dan tenaga pendidik yang dinilai berhasil membuka akses pendidikan internasional bagi generasi muda Mamasa.
Saat ini, SMA Kristen Ethnos telah menjalin kerja sama pendidikan dengan sembilan negara dan berencana menambah kemitraan dengan Belanda untuk program kuliah dan magang kerja. Sekolah tersebut juga telah mengantongi akreditasi B dengan biaya pendidikan yang disebut terjangkau bagi masyarakat.
Yayasan Indonesia Centrum Messis sebagai pengelola sekolah dipimpin oleh Pdt. DR. Oktapianus Parintak bersama Zuriel Demmatande. Meski baru berdiri pada 2023, sekolah tersebut telah memiliki izin operasional, NPSN, serta akreditasi B.
Dari 10 lulusan angkatan pertama, tujuh siswa akan melanjutkan pendidikan di Guilind University, China, sementara lainnya melanjutkan studi ke Jepang. Nama “Ethnos” yang berarti “Bangsa-Bangsa” dalam bahasa Yunani mencerminkan visi sekolah untuk mencetak generasi Mamasa yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Selama tiga tahun pendidikan, para siswa dibekali kemampuan Bahasa Inggris sebagai bahasa wajib, serta penguatan bahasa asing lain seperti Mandarin, Jepang, dan Jerman sesuai negara tujuan studi. Selain pendidikan akademik, sekolah juga menerapkan disiplin ketat dengan larangan merokok dan pacaran demi menjaga fokus siswa terhadap masa depan mereka.
Kepala Sekolah Elis Mendana mengatakan, sekolah memiliki tiga tujuan utama, yakni membentuk karakter Kristus, mengembangkan potensi siswa sesuai talenta, dan mempersiapkan peserta didik melanjutkan kuliah di luar negeri sesuai minat dan bakat.
Dengan biaya pendidikan yang terjangkau, SMA Kristen Ethnos diharapkan menjadi salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Mamasa sekaligus melahirkan generasi muda yang mampu membangun daerah di masa depan. (*)







