Sulbar Catat 19.596 Anak Stunting, Sudah Lebih Baik Dibanding 2024

oleh
Ilustrasi AI

Mamuju, Mesakada.com — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar menyebutkan jumlah balita stunting di Sulbar pada 2025 tercatat sebanyak 19.596 kasus. Angka tersebut turun signifikan sebanyak 7.230 kasus dibanding tahun 2024 yang mencapai 26.826 kasus.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas DKPPKB Sulbar, Putri Anindy, saat menjadi narasumber pada kegiatan Analisa dan Evaluasi TUKBINJARSUS dan GALSUS Tahap I Tahun Anggaran 2026 di Hotel Aflah Mamuju, 11–12 Mei 2026.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Melalui Analisa dan Evaluasi Bidang Pembinaan dan Operasional Intelkam Polri, Kita Tingkatkan Kualitas Gizi Anak Bangsa dan Dampaknya Terhadap Ekonomi Lokal Menuju Indonesia Emas 2045”.

Putri Anindy mengatakan, stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas kerja di masa depan hingga ketahanan ekonomi keluarga dan daerah.

“Penanganan stunting bukan hanya isu kesehatan, tetapi investasi strategis untuk masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh sehat hari ini adalah kekuatan ekonomi Indonesia di masa mendatang,” ujarnya.

Meski angka stunting mengalami penurunan, tantangan masih dihadapi di sejumlah daerah. Kabupaten Polewali Mandar dan Mamuju tercatat sebagai wilayah dengan angka stunting tertinggi di Sulbar, sementara Mamuju Tengah menjadi daerah dengan angka terendah.

Sementara itu, Kepala DKPPKB Sulbar dr. Nursyamsi Rahim menyampaikan, stunting diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi hingga 2–3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia setiap tahun.

Ia menyebut, investasi pada perbaikan gizi anak memberikan dampak ekonomi besar karena setiap satu rupiah yang diinvestasikan dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga 16–48 rupiah dalam jangka panjang.

Untuk mempercepat penurunan stunting, DKPPKB Sulbar terus mendorong penguatan strategi konvergensi melalui empat pendekatan utama, yakni fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, penguatan Posyandu dan Puskesmas, ketahanan pangan lokal berbasis potensi daerah, serta sinergi lintas sektor antara Polri, pemerintah daerah dan masyarakat.

“Indonesia Emas 2045 bukan hadiah, tetapi hasil kerja kolektif yang dimulai hari ini. Setiap anak yang kita selamatkan dari stunting adalah satu langkah lebih dekat menuju Sulbar yang maju dan Indonesia yang berdaulat,” tegasnya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.