Mamuju, Mesakada.com — Sektor perkebunan kini tak lagi sekadar soal produksi komoditas mentah. Di Sulawesi Barat, pemerintah daerah mulai mengembangkan potensi hilirisasi benih kakao sebagai sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Melalui pengelolaan Kebun Sumber Benih (KSB) kakao yang tersertifikasi, Sulbar tidak hanya menjamin ketersediaan bibit unggul bagi petani, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dari sektor perbenihan.
Langkah ini sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, yang mendorong penguatan ekonomi daerah berbasis potensi unggulan lokal. Kakao pun ditetapkan sebagai salah satu sektor prioritas.
Selama ini, PAD daerah cenderung bergantung pada sektor konvensional seperti pajak kendaraan dan retribusi pasar. Namun, meningkatnya permintaan global terhadap cokelat berkualitas turut mendorong kebutuhan akan benih kakao unggul.
Melihat peluang tersebut, Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat mengoptimalkan lahan produktif menjadi Kebun Sumber Benih. Di lokasi ini dibudidayakan berbagai klon unggul, seperti MCC-02 dan Sulawesi Series, yang dikenal tahan terhadap hama dan memiliki produktivitas tinggi.
Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Muh. Faizal Thamrin, mengatakan sektor perbenihan memiliki nilai ekonomi yang signifikan jika dikelola secara optimal.
“Kami melihat potensi besar dari sektor perbenihan. Dengan status sebagai Kebun Sumber Benih resmi, kami dapat menyuplai kebutuhan bibit tidak hanya untuk petani lokal, tetapi juga ke luar daerah. Retribusi dari penjualan benih ini menjadi salah satu sumber PAD,” ujar Faizal, Kamis (16/4).
Ia menegaskan, sertifikasi menjadi faktor kunci dalam meningkatkan nilai jual benih. Produk dari KSB yang telah tersertifikasi memiliki jaminan kualitas sehingga lebih diminati oleh petani maupun investor.
“Petani dan pelaku usaha perkebunan kini lebih memilih benih resmi milik pemerintah daerah karena memiliki kepastian kualitas dan hasil panen di masa depan,” jelasnya.
Selain berkontribusi terhadap PAD, keberadaan KSB juga berfungsi sebagai pusat edukasi atau teaching farm bagi masyarakat. Program ini turut membuka lapangan kerja baru, khususnya di sektor pembibitan.
Faizal berharap pengembangan KSB dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengelola potensi sumber daya alam secara lebih inovatif dan berkelanjutan.
“Jika dikelola secara profesional, kebun benih bukan hanya sekadar lahan pertanian, tetapi bisa menjadi aset investasi jangka panjang bagi kemandirian fiskal daerah,” pungkasnya. (*)





