Potensi Kakao 140,9 Ribu Hektare Belum Maksimal, Bappenas Siapkan Strategi Hilirisasi Sulbar

oleh

Hasil kajian menunjukkan sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Sulawesi Barat dengan kontribusi sekitar 46,11 persen terhadap struktur ekonomi daerah. Sementara itu, industri pengolahan baru menyumbang sekitar 10,41 persen, menunjukkan masih besarnya peluang meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi komoditas unggulan.

Berdasarkan berbagai indikator tersebut, Bappenas menetapkan kakao dan kopi sebagai dua komoditas yang paling potensial dikembangkan menjadi core competence Provinsi Sulawesi Barat.

Komoditas kakao memiliki luas areal sekitar 140,9 ribu hektare, namun masih menghadapi tantangan produktivitas yang menyebabkan hilangnya potensi nilai ekonomi. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas kopi yang masih memiliki ruang peningkatan produktivitas melalui penguatan budidaya, penanganan pascapanen, hingga pengembangan industri pengolahan.

FGD juga membahas berbagai tantangan pengembangan kedua komoditas tersebut, mulai dari peningkatan produktivitas kebun, kualitas hasil panen, penguatan kelembagaan petani, pemanfaatan teknologi pengolahan, pembangunan infrastruktur produksi dan logistik, akses pembiayaan, investasi, hingga perluasan pasar dan ekspor.

Seluruh masukan peserta akan menjadi bagian dari rekomendasi kebijakan yang disusun Bappenas sebagai acuan pengembangan kompetensi inti Sulawesi Barat.

Kepala Bapperida Provinsi Sulawesi Barat, Amujib, menegaskan penyusunan core competence harus menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam kebijakan pembangunan daerah.

Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki modal besar melalui produksi kakao dan kopi. Tantangan berikutnya adalah mengubah potensi tersebut menjadi nilai tambah melalui hilirisasi, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan petani.

“Kegiatan ini tidak boleh berhenti sebagai sebuah kajian. Hasilnya harus menjadi dasar untuk menentukan keunggulan yang benar-benar mampu menjadi mesin percepatan pembangunan Sulawesi Barat,” ujar Amujib.

Ia menambahkan, pengembangan kakao dan kopi sejalan dengan implementasi Panca Daya yang menjadi strategi pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka.

Melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur pendukung, serta tata kelola yang kolaboratif, pemerintah berharap komoditas unggulan tersebut mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.