Mamuju, Mesakada.com — Sulawesi Barat (Sulbar) dinilai memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan industri kakao dan kopi di Indonesia. Dengan luas areal kakao mencapai 140,9 ribu hektare dan sektor pertanian yang masih menjadi penopang utama ekonomi daerah dengan kontribusi 46,11 persen, pemerintah mulai menyusun strategi hilirisasi agar kedua komoditas tersebut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah.
Langkah tersebut dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas melalui Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rekomendasi Core Competence Berbasis Komoditas Kakao dan Kopi di Ruang Rapat RPJMD Bapperida Sulbar, Selasa (28/7/2026).
Forum yang diinisiasi Direktorat Pembangunan Indonesia Timur Kementerian PPN/Bappenas itu menghadirkan perwakilan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, akademisi, pelaku usaha, industri, hingga tim ahli untuk merumuskan strategi pengembangan komoditas unggulan yang mampu mempercepat transformasi ekonomi Sulawesi Barat.
Dalam pemaparannya, tim Bappenas menjelaskan bahwa penyusunan core competence merupakan bagian dari implementasi agenda transformasi ekonomi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Sulawesi Barat diarahkan memperkuat ekosistem komoditas unggulan agar mampu meningkatkan kontribusi kawasan timur Indonesia terhadap perekonomian nasional menuju Visi Indonesia Emas 2045.
Kajian yang dilakukan Bappenas menggunakan pendekatan yang menilai potensi sumber daya, kemampuan daerah mengembangkan industri, serta kesiapan memenuhi kebutuhan pasar.





