Per Ton LTJ di Mamuju Ditaksir Rp 1,8 M, Batu Bara Cuma Rp 1,8 Juta

oleh
Istimewa

Jakarta, Mesakada.com — Logam Tanah Jarang (LTJ) kini santer diisukan bakal segera dikelola di Sulbar, tepatnya di Kabupaten Mamuju. Seberapa mahalnya logam tersebut?

LTJ sendiri dikenal sebagai mineral strategis yang mempunyai segudang manfaat untuk kebutuhan berbagai teknologi modern. Salah satunya industri pertahanan.

Sehingga tak heran jika harga LTJ relatif tinggi di pasaran. Mengingat permintaan akan komoditas ini terus mengalami peningkatan secara global.

Sepanjang 2025, neodymium menjadi logam tanah jarang dengan kenaikan harga paling signifikan. Dalam dua pekan terakhir, harganya melonjak tajam.

Data Refinitiv mencatat harga komoditas ini berada di kisaran CNY 785.500/ton atau Rp 1,8 miliar pada Jumat (22/8/2025). Dalam sebulan harganya terbang 21% dan dalam setahun melesat 58%. Dari semua komoditas yang diperdagangkan di jabat bumi, lonjakan harga neodymium hanya kalah dengan Rhodium (62%).

Kenaikannya jauh di atas komoditas logam mulia seperti platinum (50%), perak (34%) ataupun emas (28%). Bila dibandingkan nominalnya, harga neodymium sangat jauh di atas. Harga batu bara misalnya berkisar US$111 per ton atau Rp 1,8 juta. Artinya, harga neodymium 1.000 kali lipat batu bara.

Pergerakan harga yang agresif ini menegaskan posisi neodymium sebagai salah satu logam paling strategis dalam rantai pasok global teknologi.

Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengungkapkan bahwa LTJ menjadi mineral yang cukup penting karena mempunyai segudang manfaat. Salah satunya yakni untuk kebutuhan untuk industri pertahanan dan harganya cukup mahal.

“Jadi pengembangan LTJ itu untuk industri pertahanan tapi LTJ kan selain pertahanan kan bisa buat harganya memang mahal,” kata Irwandy ditemui di Jakarta, tempo lalu.

Keseriusan pemerintah RI mengelolah Logam Tanah Jarang (LTJ) di Mamuju, tampaknya sudah lama dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya lembaga baru bernama Badan Industri Mineral (BIM).

Sebelumnya, Presiden Prabowo mengangkat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto sebagai Kepala BIM tersebut.

Lembaga baru tersebut bertugas mengelola mineral-mineral strategis yang berkaitan erat dengan industri pertahanan. Mineral strategis yang dimaksud mencakup logam tanah jarang dan mineral penting lainnya. (ajs)

No More Posts Available.

No more pages to load.