Mamasa, Mesakada.com – Munculnya tangkapan layar percakapan yang diduga berisi ajakan agar kepemimpinan organisasi kategorial Sinode GTM diprioritaskan kepada pendeta atau mereka yang berlatar belakang pendidikan teologi memicu perdebatan di kalangan Pemuda Gereja Toraja Mamasa (GTM).
Pandangan tersebut dinilai berpotensi membatasi ruang partisipasi warga gereja yang memiliki kapasitas dan kemampuan memimpin, namun tidak berasal dari kalangan pendeta maupun lulusan teologi.
Salah satu tokoh pemuda GTM, Ryan Mewa’, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya terhadap pandangan yang dianggap eksklusif tersebut. Ia menegaskan bahwa pelayanan dalam gereja seharusnya didasarkan pada kompetensi, integritas, dan panggilan melayani, bukan pada jabatan atau latar belakang pendidikan tertentu.
“Saya benar-benar kecewa. Jika benar ada oknum pengurus Sinode yang berpandangan bahwa hanya pendeta yang mampu mengurus organisasi GTM, maka ini bukan lagi soal kapasitas, melainkan bentuk pembatasan terhadap hak warga gereja untuk melayani. Organisasi gereja harus dibangun di atas kompetensi, integritas, dan panggilan pelayanan, bukan monopoli jabatan atau latar belakang tertentu,” kata Ryan, Kamis (18/6/3026.
Menurut Ryan, pola pikir yang membatasi kepemimpinan hanya pada kelompok tertentu dapat berdampak pada menurunnya rasa memiliki warga jemaat terhadap organisasi gereja.
Ia bahkan mengaku mulai mempertanyakan keutuhan GTM jika pola kepemimpinan yang dianggap eksklusif tersebut terus dipertahankan.
“Saya meragukan keutuhan GTM apabila gereja terus diurus dengan cara berpikir seperti ini. Gereja adalah milik seluruh umat Tuhan, bukan milik kelompok tertentu. Kepemimpinan yang sehat lahir dari keterbukaan, bukan dari klaim bahwa hanya satu golongan yang layak memimpin,” ujarnya.
Ryan berharap pihak Sinode GTM segera memberikan klarifikasi terkait informasi yang beredar agar tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan di tengah warga gereja. Menurutnya, GTM membutuhkan budaya organisasi yang inklusif dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota jemaat yang memiliki integritas, kemampuan, dan komitmen dalam pelayanan.
“Setiap warga gereja yang memiliki kapasitas dan hati untuk melayani harus diberi ruang yang sama. Gereja akan semakin kuat jika mampu merangkul seluruh potensi yang dimiliki jemaatnya,” tutup Ryan. (*)







