Mamuju, Mesakada.com — Mamuju RUN 2026 tidak hanya dipersiapkan sebagai ajang olahraga lari. Event yang dijadwalkan berlangsung pada 8 November 2026 tersebut mengusung konsep yang memadukan olahraga, literasi sejarah, dan seni budaya Mamuju.
Sebanyak 4.500 peserta ditargetkan mengikuti event tersebut. Penyelenggara ingin menjadikan Mamuju RUN 2026 sebagai ruang untuk memperkenalkan sejarah dan kekayaan budaya Sulawesi Barat kepada masyarakat melalui kegiatan olahraga.
Ketua Panitia Pelaksana Mamuju RUN 2026, Rafiul Nur Arsa mengatakan, konsep kegiatan dirancang agar peserta tidak hanya mengikuti perlombaan lari, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenai sejarah dan kebudayaan yang ada di Mamuju. Menurut Rafiul, olahraga memiliki sifat universal sehingga dapat menjadi medium untuk memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.
“Olahraga adalah bahasa universal yang menyatukan kita semua tanpa sekat. Melalui event kolaboratif ini, kami ingin setiap pelari pulang dengan membawa kebanggaan besar: bahwa mereka tidak hanya telah menaklukkan rute lari, tetapi juga telah menjadi bagian dari sejarah besar peradaban maritim dunia di Mamuju,” kata Rafiul, Kamis (17/9/2026).
Salah satu materi sejarah yang diangkat dalam Mamuju RUN 2026 adalah Arca Sikendeng yang ditemukan pada 1921 di wilayah Sampaga, Mamuju. Penyelenggara menyebut artefak tersebut sebagai bagian penting dari sejarah Mamuju yang perlu dikenalkan kepada publik.
Penyelenggara menyatakan materi edukasi sejarah dalam event tersebut berbasis pada kajian arkeologi dan antropologi. Arca Sikendeng disebut sebagai benda cagar budaya yang berada di bawah perlindungan negara dan kini menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional Indonesia di Jakarta.
Selain itu, lokasi penemuan Arca Sikendeng di wilayah Sampaga menjadi bagian dari narasi sejarah yang akan diperkenalkan melalui Mamuju RUN 2026. Penyelenggara menilai keberadaan artefak tersebut menjadi salah satu bagian dari sejarah Mamuju yang penting untuk diperkenalkan kepada peserta.
Selain sejarah, event tersebut juga akan memperkenalkan sejumlah unsur budaya Sulawesi Barat, termasuk Tari Sayo, Tenun Sekomandi, Perahu Sandeq, Rumah Adat Mamuju, hingga Burung Maleo. Konsep tersebut dirangkum dalam semangat “Sitammu Uju” yang dimaknai sebagai bertemu, berlari, dan bersaudara.
Penyelenggara berharap Mamuju RUN 2026 dapat menjadi ruang pertemuan antara olahraga, budaya, dan promosi identitas daerah. Rafiul yang juga merupakan Ketua HIPMI Mamuju mengatakan kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Mamuju RUN 2026 diharapkan dapat menjadi salah satu event olahraga yang memperkuat promosi Mamuju sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya daerah kepada peserta dari berbagai wilayah. (*)






