Majene, Mesakada.com – Kerusakan parah pada ruas jalan penghubung Ulumanda–Salutambung yang terjadi sejak pertengahan Mei 2026 hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pemerintah. Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga dan mahasiswa karena akses vital masyarakat Ulumanda semakin memburuk dan terancam putus sewaktu-waktu.
Jalan yang rusak akibat hujan deras pada 14 Mei 2026 itu mengalami retakan di sejumlah titik, tergerus longsor, dan sebagian badan jalan menggantung di bibir jurang. Meski sudah berlangsung lebih dari sebulan, belum terlihat langkah penanganan yang mampu mengatasi kerusakan secara signifikan.
Akibatnya, kendaraan roda empat tidak lagi berani melintas, sementara sepeda motor masih dapat melewati jalur tersebut dengan risiko tinggi.
“Sekarang memang masih bisa dilewati motor, tapi sangat berbahaya. Jalan sudah retak dan bisa longsor kapan saja. Kalau hujan deras turun lagi, kami yakin jalan ini akan putus total,” kata pemuda Desa Popenga, Ahmad Ridha.
Lambannya respons pemerintah terhadap kondisi tersebut mendapat sorotan dari Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAIN Majene, Syamsul Ridhah. Ia menilai pemerintah terkesan membiarkan persoalan yang mengancam akses ribuan warga Ulumanda.
Menurutnya, sejak kerusakan terjadi pada pertengahan Mei lalu, masyarakat terus menunggu tindakan nyata. Namun hingga kini, jalan yang menjadi urat nadi transportasi warga itu masih berada dalam kondisi memprihatinkan.
“Jalan menuju Ulumanda semakin memburuk, tetapi kami melihat pemerintah seolah tutup mata dan belum memberikan solusi yang jelas bagi masyarakat. Sudah lebih dari sebulan kondisi ini terjadi, namun belum ada penanganan yang mampu menjawab keresahan warga,” kata Syamsul.
Ia menegaskan, apabila pemerintah terus mengabaikan tuntutan masyarakat, pihaknya siap menggalang dukungan warga untuk melakukan aksi unjuk rasa.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan yang serius, kami siap mengajak masyarakat Ulumanda untuk melakukan aksi unjuk rasa sebagai bentuk tuntutan agar pemerintah segera bertindak,” tegasnya.
Syamsul menilai kerusakan jalan tersebut bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, melainkan ancaman serius terhadap aktivitas masyarakat. Jika akses itu terputus total, ribuan warga akan kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan, sekolah, pasar, hingga layanan pemerintahan.
“Kami tidak ingin menunggu sampai masyarakat benar-benar terisolasi. Pemerintah harus hadir dengan solusi nyata. Jika tidak ada tindakan yang jelas dalam waktu dekat, kami akan mengonsolidasikan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui aksi demonstrasi,” ujarnya.
Warga juga mendesak pemerintah daerah segera mengambil langkah darurat sebelum kerusakan bertambah parah. Mereka khawatir hujan dengan intensitas tinggi akan mempercepat longsor dan menyebabkan jalan amblas total.
“Kami berharap pemerintah jangan tunggu putus total dulu baru ada tindakan. Ini akses satu-satunya masyarakat,” ujar seorang warga.
Hingga kini, masyarakat Ulumanda masih menunggu langkah konkret pemerintah untuk menangani kerusakan jalan yang telah berlangsung sejak pertengahan Mei tersebut. Jika tidak segera ditangani, ancaman isolasi bagi ribuan warga semakin nyata. (*)






