Mamuju, Mesakada.com — Kasus seorang ibu yang melahirkan di jalan akibat akses rusak di Desa Kopeang memicu perhatian publik. Bupati Mamuju Sutinah Suhardi pun angkat bicara, mengakui keterbatasan anggaran serta menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
Sutinah menjelaskan, dokter dan bidan di Puskesmas Tapalang telah lebih dulu memeriksa kondisi ibu tersebut saat kunjungan rutin ke Desa Kopeang. Dokter menyampaikan bahwa perkiraan waktu persalinan jatuh pada akhir Maret, serta menyarankan agar segera menuju fasilitas kesehatan di Mamuju, tepatnya di wilayah Tapalang.
Ia menambahkan, satu hari sebelum Lebaran, bidan desa juga telah memberitahukan kepada suami Ibu Ratna bahwa kondisi persalinan sudah dekat dan meminta agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Namun, pihak keluarga memilih menunda karena ingin merayakan Lebaran terlebih dahulu.
“Hanya satu hari sebelum Lebaran itu bidan sudah memberitahukan suami Ibu Ratna bahwa ibunya sudah mau melahirkan, tapi katanya mau Lebaran dulu. Ya kita sangat memaklumi, jadi terjadilah kondisi seperti itu,” kata Sutinah, saat diwawancarai di Kantor Bupati Mamuju, Senin (30/3/2026).
Bupati Mamuju juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Kopeang, Bela, dan Kalumpang, karena belum maksimal dalam melakukan intervensi, terutama pada sektor infrastruktur jalan di wilayah tersebut.
“Saya juga memohon maaf kepada masyarakat Mamuju, terutama masyarakat saudara-saudara kami di Kopeang, Bela, Kalumpang, kami belum maksimal mengintervensi, terutama infrastruktur jalan yang ada di daerah itu,” ucap Sutinah.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan karena kurangnya keinginan pemerintah daerah, melainkan keterbatasan kemampuan keuangan daerah yang belum memungkinkan untuk menangani seluruh kebutuhan infrastruktur secara menyeluruh.
“Bukan karena kami tidak mau, karena memang kondisi keuangan yang dimiliki oleh pemerintah Kabupaten Mamuju belum memungkinkan untuk mengintervensi semua,” jelasnya.
Sutinah mengungkapkan, bahwa pembangunan jalan dan jembatan di wilayah Kopeang membutuhkan anggaran yang sangat besar, diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.
Oleh karena itu, kata dia, Pemkab Mamuju berharap adanya perhatian dan intervensi dari pemerintah pusat, terutama setelah kasus ini menjadi perhatian publik.
“Mudah-mudahan dengan viralnya Ibu Ratna yang melahirkan di jalan itu, pemerintah pusat bisa terketuk hatinya untuk membantu kita di Kabupaten Mamuju. Karena memang kalau kita ingin melihat jalan dan jembatan bisa bagus di Kopeang, itu membutuhkan anggaran kurang lebih ratusan miliar,” ungkapnya.
Selain itu, Sutinah juga telah berupaya mengusulkan penanganan jalan di wilayah Bela dan Kopeang yang juga terdampak gempa, dengan harapan dapat diintervensi oleh pemerintah pusat.
Ia juga telah meminta Pemprov Sulbar mengambil alih penanganan jalan tersebut, mengingat wilayah Bela dan Kopeang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mamasa sehingga berpotensi menjadi kewenangan jalan provinsi.
“Saya sudah meminta pemerintah pusat untuk mengintervensi jalannya di sana, tapi ternyata belum. Kita juga meminta pemerintah provinsi untuk mengambil alih, karena Bela Kopeang berbatasan dengan Kabupaten Mamasa, jadi bisa jadi jalan provinsi. Hanya memang mungkin kendalanya pemerintah provinsi juga sama, terkendala anggaran,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, Sutinah menegaskan tetap berupaya meningkatkan pelayanan dasar, khususnya di sektor kesehatan dan pendidikan. Bidan desa bersama dokter dari Puskesmas Tapalang secara rutin turun langsung ke Kopeang untuk memeriksa kondisi kesehatan masyarakat.
“Di periode pertama saya, sektor dasar seperti kesehatan dan pendidikan tetap kita intervensi. Memang belum ada puskesmas di sana, tapi bidan desa dan dokter dari Puskesmas Tapalang rutin naik ke Kopeang memeriksa kesehatan masyarakat,” tuturnya.
Dokter yang sama pula sebelumnya telah menyarankan agar Ibu Ratna dapat segera menuju fasilitas kesehatan di Tapalang untuk proses persalinan. Namun karena bertepatan dengan momen Lebaran, kondisi tersebut pun harus dimaklumi.
Sutinah pun kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bela, Kopeang, dan Kalumpang, serta berharap dukungan dan doa agar ke depan dapat bekerja lebih baik.
“Jadi saya mohon maaf kepada masyarakat Bela Kopeang dan Kalumpang. Mudah-mudahan doakan kami bekerja lebih baik lagi. Kalau APBD Mamuju belum bisa mengintervensi, kita minta bantuan ke provinsi atau pusat,” pungkasnya. (ajs)







