Mamuju, Mesakada.com – Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) menekankan pentingnya investasi di sektor sawit, pertambangan emas, serta hilirisasi komoditas unggulan seperti kakao untuk mendorong perekonomian Sulbar melaju lebih cepat.
Hal itu disampaikan saat membuka Forum Bisnis Daerah (Forbisda) HIPMI Sulbar di Matos, Minggu, 16 November 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Kolaborasi Pengusaha Muda Sebagai Pilar Strategis dalam Mendorong Transformasi Ekonomi Nasional Menuju Indonesia Emas 2045.”
SDK mengatakan pengusaha muda harus mampu membaca dan menangkap peluang yang sedang terbuka, terutama pada sektor-sektor yang diyakini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sulbar.
“Jadi kalau kita buka investasi sawit 1.000 hektare, kemudian kita juga kasih peluang pertambangan emas, dan hilirisasi produk unggul Sulbar seperti Kakao, Kopi dan yang lainnya. Saya yakin bisa tumbuh sampai 7-8 persen (ekonomi),” kata SDK.
Ia menegaskan bahwa sektor-sektor tersebut tidak hanya menjanjikan di hulu, tetapi juga pada pengembangan industri hilir. Produk kakao, gula aren, hingga komoditas pertanian lainnya memiliki peluang besar jika diolah menjadi produk bernilai tambah.
SDK juga menunjukkan pentingnya pelatihan petani agar kualitas produk semakin kompetitif. Menurutnya, kehadiran pengusaha muda dalam rantai produksi akan memperkuat kapasitas petani sekaligus membuka pintu hilirisasi.
Selain itu, SDK mendorong HIPMI Sulbar untuk bekerja sama dengan pihak industri seperti MBG, minimal dalam pemasok beras dan ayam agar rantai pasok lokal bisa diperkuat.
Ketua BPP HIPMI Bidang Sinergitas BUMN, Anthony Leong, mengapresiasi pencapaian Sulbar yang mampu tumbuh hingga 5 persen dan masuk 5 besar nasional pada tahun 2025.
“Saya yakin HIPMI Sulbar siap berkolaborasi dengan Pemprov Sulbar dan mendukung program nasional, termasuk MBG,” ujarnya.
Ketua BPD HIPMI Sulbar, Zulfikar Suhardi, mengatakan kolaborasi pemerintah dengan pengusaha muda menjadi angin segar bagi geliat investasi daerah. Ia mengajak seluruh anggota HIPMI untuk aktif menangkap peluang, bukan menunggu.
“Bukan hanya duduk santai, tapi bagaimana kita meraih peluang-peluang tersebut,” tandasnya. (*)





