Bali, Mesakada.com — Komisi I DPRD Sulbar mempelajari sejumlah program sosial Pemprov Bali, mulai dari tata kelola beasiswa pendidikan hingga mekanisme bantuan rumah ibadah. Salah satu program yang menjadi perhatian ialah Beasiswa Gubernur Bali “Satu Rumah Satu Sarjana”.
Program tersebut memberikan bantuan hingga Rp4 juta per bulan kepada mahasiswa yang memenuhi kriteria berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi atau desil. Skema tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi DPRD Sulbar dalam melihat pola intervensi pemerintah daerah di sektor pendidikan, khususnya upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari kelompok ekonomi tertentu.
Kebijakan tersebut juga dikaitkan dengan Panca Daya Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, khususnya Daya ke-3 tentang pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Pendidikan ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus membuka akses ekonomi masyarakat.
Selain beasiswa, Komisi I DPRD Sulbar turut mendalami mekanisme penyaluran dan pengelolaan bantuan rumah ibadah di Bali. Informasi tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi dalam penyempurnaan tata kelola bantuan serupa di Sulawesi Barat.
Pembahasan kemudian berkembang pada peluang kerja sama kebudayaan antara Sulbar dan Bali. Salah satu yang dijajaki ialah dukungan terhadap pelestarian tradisi dan seni pertunjukan adat, termasuk rencana pementasan ritual adat Massossor Manurung.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempertemukan potensi kebudayaan Mamuju dan Bali sekaligus membuka ruang promosi kebudayaan Sulbar di tingkat nasional. Peluang dukungan melalui hibah maupun skema kerja sama antardaerah juga menjadi bagian dari pembahasan.
Ketua DPRD Sulbar Amalia Fitri Aras mengatakan, kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi legislatif untuk mempelajari praktik kebijakan yang diterapkan daerah lain.
“Kunjungan kerja ini menjadi momentum penting bagi kami untuk mempelajari berbagai program pro-rakyat di Bali, baik di bidang pendidikan, keagamaan, maupun pelestarian adat. Kami berharap hasil diskusi ini dapat diadaptasi untuk memperkuat kebijakan daerah di Sulawesi Barat, sejalan dengan Panca Daya Gubernur dalam membangun SDM unggul dan menjaga kearifan lokal kita,” ujar Amalia, Rabu (30/9/2026).
Ia menambahkan, penjajakan kerja sama kebudayaan melalui pementasan Massossor Manurung dapat menjadi salah satu bentuk diplomasi budaya antara Sulbar dan Bali.
Menurutnya, berbagai aspek prosedural dan regulasi terkait peluang hibah maupun kerja sama akan ditindaklanjuti bersama pihak terkait sebelum diterapkan di Sulbar. (*)







