Mamuju, Mesakada.com — Upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) di Sulbar terus diperkuat. Kali ini, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar, mulai menyusun indikator untuk menentukan desa-desa yang akan menjadi lokus Desa Siaga TB.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam kegiatan yang digelar di Aula Adyatma DKPPKB Sulbar, Rabu (1/4/2026). Fokusnya bukan sekadar menyusun indikator, tetapi juga memetakan desa prioritas yang akan menjadi titik intervensi program berbasis wilayah.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan Program PASTI PADU, sekaligus mendukung arah pembangunan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.
Pengelola Program TB Sulbar, Harsalim menjelaskan, bahwa pengembangan Desa Siaga TB merujuk pada kebijakan nasional, termasuk Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang penanggulangan tuberkulosis, serta arahan strategis dari Kementerian Kesehatan.
Menurutnya, Desa Siaga TB juga menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dicanangkan pemerintah pusat di era Presiden Prabowo Subianto.
“Tujuannya untuk mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, sekaligus memperkuat upaya pencegahan di tingkat masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, indikator yang sedang disusun mencakup sejumlah aspek penting. Mulai dari komitmen pemerintah desa, keterlibatan tokoh masyarakat, keberadaan kader aktif, hingga keberlanjutan kegiatan promotif dan preventif.
Tak hanya itu, program ini juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk dalam penemuan kasus dan pendampingan pengobatan pasien TB, serta penguatan kapasitas kader di tingkat desa.
Sementara itu, Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa peran masyarakat menjadi kunci dalam upaya eliminasi TB.
“Penanggulangan TB tidak bisa hanya bergantung pada fasilitas kesehatan. Desa harus menjadi garda terdepan, terutama dalam deteksi dini dan pencegahan,” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya penentuan lokus dan indikator yang jelas, program Desa Siaga TB bisa berjalan lebih terarah dan memberi dampak nyata dalam menekan angka kasus TB di Sulawesi Barat. (rls)





