Mamuju, Mesakada.com – Pemprov Sulbar mulai mematangkan rencana pemasangan alat peringatan gempa dari Jepang sebagai upaya memperkuat sistem mitigasi bencana, dan peringatan dini di daerah yang dikenal rawan gempa.
Rencana itu dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Rapat Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Sulbar, Senin (20/7/2026). Rapat diikuti Kepala Bagian Pemerintahan Biro Pemkesra Setda Sulbar, Muh. Dhany Sadry, bersama sejumlah instansi terkait sebagai tindak lanjut arahan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK).
Dalam rapat tersebut, peserta membahas mekanisme pemasangan alat peringatan gempa asal Jepang, termasuk penentuan lokasi pemasangan, koordinasi lintas instansi, serta dukungan pemerintah daerah agar program dapat segera direalisasikan.
Kepala Bagian Pemerintahan Biro Pemkesra Setda Sulbar, Muh. Dhany Sadry mengatakan, kehadiran teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan daerah dalam mendeteksi potensi gempa lebih cepat, sehingga pemerintah memiliki waktu lebih baik untuk melakukan langkah-langkah mitigasi.
“Sulawesi Barat merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan gempa yang cukup tinggi. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mitra internasional, dan seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk menghadirkan sistem deteksi dini yang lebih baik demi keselamatan masyarakat,” kata Dhany.
Sementara itu, Kepala Biro Pemerintahan dan Kesra Setda Sulbar, Murdanil menyebut, rencana kerja sama dengan pihak Jepang tersebut merupakan bentuk komitmen dalam memperkuat ketahanan daerah terhadap risiko bencana. Pemprov Sulbar siap mendukung seluruh tahapan pelaksanaan program agar sistem deteksi dini dapat segera beroperasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Rencana pemasangan alat peringatan gempa ini merupakan bentuk sinergi yang sangat positif dan diharapkan dapat memperkuat sistem mitigasi bencana di daerah,” kata Murdanil.
Ia berharap seluruh perangkat daerah dan instansi terkait terus memperkuat koordinasi sehingga pemasangan alat deteksi gempa dapat segera direalisasikan. Meski demikian, dalam rapat tersebut belum diungkap secara rinci jenis teknologi yang akan dipasang, jumlah alat, titik lokasi pemasangan, jadwal implementasi, maupun bentuk kerja sama dengan pihak Jepang.
Pemerintah juga belum menjelaskan apakah alat tersebut merupakan sistem peringatan dini atau earthquake early warning, sensor seismik, atau perangkat pemantauan lainnya. (*)






