Mamuju, Mesakada.com — Kapal HYSY 721 milik China Oilfield Services Limited (COSL) berbendera Panama sempat parkir di perairan Mamuju beberapa hari lalu. Kapal tersebut diduga sedang melakukan Survei Seismik Offshore 3D Kadawulo. Proyek ini mengharuskan 124 rumpon nelayan dipindahkan.
Proyek itu diduga diinisiasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, sebagai bagian dari upaya mencari cadangan minyak dan gas bumi (migas) baru untuk mendukung target peningkatan produksi energi nasional pada 2030. Berdasarkan informasi yang dikutip dari ruangenergi.com, proyek tersebut diawali dengan Kick Off Meeting di Balikpapan pada 22 Mei 2026.
Kegiatan itu menandai dimulainya salah satu survei seismik laut dalam paling kompleks yang saat ini dikerjakan Pertamina di wilayah perairan terbuka Indonesia. Survei dilakukan di kawasan South Kutai Basin dengan cakupan area sekitar 2.500 kilometer persegi. Lokasi survei berada pada kedalaman laut 900 hingga 2.300 meter, dengan target pemetaan struktur bawah permukaan pada kedalaman 2.000–3.500 milidetik.
Tujuan utama survei ini adalah memperoleh gambaran struktur geologi bawah permukaan secara lebih rinci untuk meningkatkan peluang ditemukannya cadangan migas baru. Data yang diperoleh nantinya akan menjadi dasar penentuan lokasi pengeboran eksplorasi yang dinilai memiliki potensi hidrokarbon.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, Pertamina mengoperasikan kapal survei seismik HYSY 721 milik China Oilfield Services Limited (COSL) berbendera Panama. Kapal sepanjang lebih dari 107 meter itu dilengkapi teknologi broadband marine streamer dengan konfigurasi 10 streamer sepanjang masing-masing 10 kilometer, sehingga total bentangan kabel bawah laut mencapai sekitar 100 kilometer dan mampu memetakan struktur geologi laut dalam dengan tingkat presisi tinggi.
Aktivitas akuisisi data dijadwalkan berlangsung sejak 2 Juni hingga akhir Agustus 2026. Sebelum memulai operasi, HYSY 721 berlayar dari China dan tiba di Indonesia pada 20 Mei 2026.
Proyek Kandawulo merupakan bagian dari program Komitmen Kerja Pasti (KKP) PHE Jambi Merang yang sebelumnya juga melaksanakan survei seismik di sejumlah wilayah Indonesia, seperti Bone–Tukang Besi, Buton, dan Bone–Seram.
Pemerintah bersama SKK Migas terus mendorong eksplorasi di wilayah terbuka, khususnya kawasan timur Indonesia yang masih minim data bawah permukaan. Dalam pelaksanaannya, proyek ini menghadapi sejumlah tantangan operasional di laut lepas.
Dokumen HSSE proyek mencatat lima risiko utama, yakni kecelakaan personel di laut, aktivitas bunkering, tekanan tinggi pada peralatan, insiden man overboard, hingga potensi tersangkutnya perangkat seismik pada rumpon milik nelayan. Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, pengamanan operasi melibatkan TNI Angkatan Laut, Polairud, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulbar, serta komunitas nelayan setempat.
Pertamina juga telah melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah dan kelompok nelayan di Kabupaten Mamuju sejak April hingga Mei 2026. Dalam pelaksanaan survei ini, sebanyak 124 rumpon yang berada di area operasi harus dipindahkan atau diputus guna menjamin keselamatan kegiatan akuisisi data. Seluruh proses pemantauan dilakukan menggunakan sistem digital berbasis Smart Monitoring.
Di tengah tren penurunan produksi migas nasional dalam beberapa tahun terakhir, Survei Seismik 3D Kandawulo diharapkan mampu membuka peluang ditemukannya cadangan hidrokarbon baru. Apabila hasil eksplorasi menunjukkan potensi yang ekonomis, kawasan Kandawulo berpeluang menjadi salah satu penopang produksi minyak dan gas Indonesia di masa depan. (*)





