Mamuju, Mesakada.com — Viral di media sosial warga Dusun Patudaan Desa Karama, Kecamatan Kalumpang harus ditandu menyusuri hutan dan naik turun gunung menuju Puskesmas Seko Barat di Kecamatan Seko di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Camat Kalumpang, Bram mengaku belum mengetahui pasti alasan warganya memilih Puskesmas Seko Barat dibanding Puskesmas Karama, di Kalumpang sendiri.
“Kalau soal alasan warga memilih ke Seko, saya belum bisa memastikan. Saya juga belum dapat laporan langsung dari masyarakat,” kata Bram, Sabtu (25/4/2026).
Menurut Bram, jika memang ada masalah pelayanan di Puskesmas Karama, tentu pihaknya akan meminta penjelasan dari kepala puskesmasnya. Namun jika kalau masyarakat sendiri yang berinisiatif membawa pasien ke Seko, kemungkinan besar karena faktor jarak dan akses.
“Mereka mungkin menilai lebih dekat ke Seko meskipun sama-sama harus ditandu,” jelasnya.
Padahal, kata dia, Puskesmas Karama sebenarnya sudah bagus. Tahun lalu, Puskesmas Karama sudah dapat anggaran rehab. Dokter juga sudah ada. Jadi fasilitas puskesmas sebenarnya sudah memadai. Di sana juga sudah ada ambulans untuk rujukan pasien jika dibutuhkan.
“Saya sendiri belum pernah lihat langsung ke Dusun Patudaan. Tapi yang saya tahu, memang jaraknya cukup jauh dari pusat Desa Karama. Kalau ditanya lebih dekat ke mana, katanya memang lebih dekat ke Seko, meskipun saya belum pernah sampai ke sana,” bebernya.
Ia mengaku, kalau naik motor, apalagi dalam kondisi hujan, jalan sulit ditembus. Bahkan kalau jalan kaki harus naik gunung, bisa sekitar delapan jam dari pusat Desa Karama atau dari Puskesmas Karama.
“Memang ada kemungkinan warga memilih ke Seko karena merasa lebih dekat. Apalagi aksesnya sama-sama sulit, sama-sama harus ditandu karena kendaraan seperti motor pun sering tidak bisa lewat,” sebut Bram.
Bram tak menampik jika kondisi di wilayahnya memang begitu. Ada beberapa dusun yang jaraknya sangat jauh dari pusat desa.
“Memang rata-rata warga di wilayah tersebut kalau sakit harus ditandu. Mobil hanya bisa sampai di Desa Karama. Akses jalan memang sudah mulai terbuka, tapi masih cukup sulit,” ungkapnya.
Bram juga baru dengar soal warga Patudaan yang lebih sering ke Seko. Informasinya karena jaraknya memang lebih dekat, dan interaksi masyarakat Patudaan dengan warga Seko juga cukup sering.
“Jadi kembali lagi, ini lebih ke persoalan akses wilayah. Ada dusun-dusun yang memang sangat jauh dari pusat desa,” ungkapnya. (ajs)







