Mamuju, Mesakada.com — Derasnya arus informasi di media sosial menjadi tantangan serius di era digital. Di tengah banjir informasi itu, kemampuan memilah fakta dan hoaks dinilai menjadi hal penting bagi masyarakat agar tidak mudah tersesat oleh informasi menyesatkan.
Hal itu disampaikan Sekprov Sulbar, Junda Maulana saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulbar di Mamuju, Kamis (21/5/2026).
“Kadang tanpa literasi informasi, kita mudah sekali terpengaruh dengan informasi yang diterima. Apalagi di media sosial, banyak orang menerima informasi tanpa mencerna dan menganalisis, lalu langsung membagikannya kembali,” ujar Junda.
Kegiatan yang menjadi bagian dari dukungan terhadap program Sulbar Mandarras itu diikuti 150 peserta yang terdiri dari pustakawan, tenaga perpustakaan, guru, hingga pegiat literasi.
Menurut Junda, informasi sejatinya dapat menjadi kekuatan besar dalam mendukung pembangunan daerah. Namun di sisi lain, informasi juga bisa menjadi ancaman apabila disebarluaskan tanpa proses verifikasi dan analisis yang baik.
“Ketika berita yang diterima itu baik dan kita informasikan kembali secara benar, maka itu akan berdampak baik. Tapi kalau buruk dan disebarkan tanpa dianalisis, maka dampaknya juga buruk,” katanya.
Ia menegaskan, literasi informasi bukan hanya soal membaca, melainkan kemampuan memahami kapan seseorang membutuhkan informasi, bagaimana cara mendapatkannya, mengelolanya, hingga menyebarkannya secara tepat dan bertanggung jawab.
Dalam sambutannya, Junda bahkan mengibaratkan pentingnya literasi informasi seperti kompas di tengah samudera luas.
“Tanpa informasi yang baik dan kemampuan mengelolanya, ibarat mengarungi samudera tanpa kompas. Kita bisa tersesat,” ungkapnya.
Bimtek tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Shalahuddin, Farhanuddin, serta Muhammad Ridwan Alimuddin.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Barat, Mustari Mula, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara efektif.
Selain memperkuat budaya literasi, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkokoh peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan memperluas jejaring antarpegiat literasi di Sulbar. (ajs)





