Mamuju, Mesakada.com – Dalam momentum peringatan perjuangan perempuan, organisasi perempuan Sarinah GMNI Cabang Mamuju menggelar aksi penyampaian aspirasi di ruang publik dengan mengusung tema “Perempuan Berdaya Menginspirasi Dunia.”
Aksi tersebut menjadi ruang bagi para kader Sarinah untuk menyuarakan berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan, khususnya di Sulawesi Barat, seperti kekerasan seksual, ketidakadilan gender, serta berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan.
Kegiatan diisi dengan mimbar bebas, pembacaan pernyataan sikap, serta penyampaian data terkait meningkatnya kasus pelecehan seksual di Kabupaten Mamuju.
Dalam orasi yang disampaikan, para kader Sarinah menegaskan bahwa perempuan bukanlah kelompok yang lemah, melainkan kekuatan sosial yang memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang adil dan beradab.
Koordinator Lapangan aksi, Sarinah Alny, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral Sarinah GMNI terhadap kondisi perempuan di daerah.
Menurutnya, tema yang diangkat bukan sekadar slogan, tetapi merupakan seruan bagi perempuan untuk berani bersuara dan melawan ketidakadilan.
“Aksi ini adalah bentuk keberanian perempuan untuk bersuara. Perempuan harus hadir sebagai kekuatan perubahan, bukan hanya menjadi korban dari sistem sosial yang tidak adil. Ketika perempuan berdaya, maka ia bukan hanya mengubah dirinya sendiri, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat dan dunia,” ujar Alny.
Dalam aksi tersebut, Sarinah GMNI juga menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) sebagai payung hukum untuk melindungi korban kekerasan seksual.
Mereka menilai bahwa meskipun undang-undang tersebut telah disahkan, penerapannya di daerah masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari minimnya sosialisasi hingga lemahnya keberpihakan terhadap korban.
Sementara itu, Penanggung Jawab Biro Kesarinahan GMNI Cabang Mamuju, Sarinah Fitri, mengungkapkan meningkatnya kasus pelecehan seksual di Mamuju menjadi situasi yang sangat memprihatinkan. Ia menilai angka yang muncul ke permukaan kemungkinan hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi.
“Banyak korban memilih untuk diam karena takut, karena tekanan sosial, atau karena merasa tidak akan mendapatkan keadilan. Bahkan tidak sedikit korban yang mengalami pembungkaman dari lingkungan sekitarnya,” ujar Fitri.
Menurutnya, fenomena pembungkaman terhadap korban menjadi salah satu hambatan serius dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Budaya patriarki yang masih kuat kerap membuat korban justru disalahkan, sementara pelaku tidak mendapatkan sanksi sosial yang seharusnya.
Melalui aksi tersebut, Sarinah GMNI Cabang Mamuju juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Di antaranya memperkuat implementasi UU TPKS, meningkatkan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, serta menyediakan layanan pendampingan hukum dan psikologis bagi para korban.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan masih panjang. Dengan semangat “Perempuan Berdaya Menginspirasi Dunia,” Sarinah GMNI Cabang Mamuju menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan hak-hak perempuan serta melawan berbagai bentuk penindasan yang masih terjadi di Sulawesi Barat. (*)





