Jakarta, Mesakada.com – Musik tradisional khas Mandar, Rawana (rebana), tampil memikat dalam gelaran Panggung Keliling (Pangling) Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu (4/4/2026). Penampilan ini dibawakan oleh Diklat Musik Anjungan Provinsi Sulawesi Barat, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada para pengunjung.
Rawana Mandar merupakan bagian penting dari tradisi kultural masyarakat Mandar. Alat musik rebana ini dimainkan secara berkelompok dalam tradisi Sayyang Pattuqduq, yakni perayaan khatam Al-Qur’an, di mana anak-anak diarak sambil menunggangi kuda menari. Iringan rawana biasanya dipadukan dengan syair Mandar yang dikenal sebagai Kalindaqdaq, menciptakan suasana religius sekaligus meriah.
Dalam struktur musiknya, marrawana (memainkan rebana) bukan sekadar hiburan, melainkan seni budaya yang memperkuat ikatan sosial masyarakat. Musik ini kerap ditampilkan dalam perayaan Maulid Nabi maupun syukuran khatam Al-Qur’an. Para pemusiknya pun tampil dengan pakaian adat Mandar, seperti jas tutup bagi pria dan kebaya khas Mandar bagi wanita, yang dipadukan dengan sarung tenun tradisional Lipa’ Saqbe.
Saat ini, Rawana Mandar telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dan terus dilestarikan melalui berbagai pertunjukan adat di Sulawesi Barat.
Dalam kegiatan Pangling Nusantara, Diklat Musik Anjungan Sulbar tidak hanya menampilkan iringan rawana, tetapi juga mengolaborasikannya dengan lagu daerah seperti “Tenggang Tenggang Lopi”. Lagu tersebut dibawakan dengan aransemen yang lebih ringan tanpa meninggalkan pakem tradisional, sehingga mampu menarik perhatian wisatawan untuk ikut bernyanyi dan berinteraksi.
Program Pangling Nusantara sendiri merupakan inisiatif pengelola TMII sebagai wadah ekspresi bagi seniman musik tradisional dari berbagai daerah. Konsep pertunjukan ini dirancang agar pengunjung dapat menikmati musik sekaligus memahami nilai sejarah, makna budaya, hingga busana tradisional yang ditampilkan dalam satu paket pertunjukan keliling.
Diklat Musik Anjungan Sulawesi Barat juga terus mengembangkan program pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpegang pada standar alat musik tradisional rawana. Hal ini bertujuan agar proses belajar tetap menyenangkan sekaligus menjaga keaslian budaya.
Kegiatan ini sejalan dengan program Pancadaya yang diusung Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, khususnya dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.
Kepala Badan Penghubung Provinsi Sulawesi Barat, Gemilang Sukma, menegaskan bahwa Rawana Mandar merupakan identitas kuat musik tradisional daerah yang berpotensi menjadi ikon budaya nasional.
“Rawana Mandar merupakan salah satu paket musik yang sangat lengkap dan menghibur. Ini menjadi bukti bahwa leluhur masyarakat Mandar memiliki kualitas dan selera seni yang sangat tinggi,” ujarnya.
Melalui panggung ini, Rawana Mandar tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media edukasi dan promosi budaya. Kehadirannya di tengah pengunjung TMII menjadi bukti bahwa musik tradisional Indonesia memiliki kekayaan harmoni, aransemen, dan melodi yang tak kalah dengan musik modern dari berbagai negara. (*)





