Mamuju, Mesakada.com — Fenomena pekerja anak dan pernikahan dini membayangi dunia pendidikan di Sulbar. Saat ini tercatat ada 255 anak berhenti sekolah karena bekerja dan 317 berhenti sekolah karena menikah.
Selain itu, ada 65 anak tidak sekolah karena pengaruh lingkungan, 87 anak putus sekolah akibat jarak sekolah yang jauh, serta 149 anak terkendala biaya, dan 287 anak memang tidak memiliki keinginan untuk bersekolah. Sisanya disebabkan faktor lain seperti tidak memiliki seragam hingga kasus kekerasan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulbar mencatat ada 1.700 anak di Sulbar tidak bersekolah dengan beragam penyebab. Faktor ekonomi mendominasi.
“Kalau dilihat, pekerja anak usia sekolah ini jadi PR kita bersama karena angkanya cukup tinggi,” kata Kepala Disdikbud Sulbar, Muhammad Nehru Sagena, Sabtu (2/5/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa Sulbar menjadi salah satu daerah dengan kontribusi angka pernikahan anak yang cukup signifikan. Hal itu tercermin dari 317 anak yang putus sekolah karena menikah.
Sebagai upaya penanganan, pemerintah daerah telah mengembalikan 550 anak ke bangku sekolah. Rinciannya, 141 anak di Mamuju, 102 di Majene, 119 di Polewali Mandar, 92 di Mamasa, 69 di Pasangkayu, dan 27 anak di Mamuju Tengah.
Kebijakan tersebut dituangkan dalam Keputusan Gubernur Sulbar Nomor 299 Tahun 2026 tentang pengembalian anak bersekolah.
“Nama-nama mereka sudah dimasukkan dalam dapodik sehingga mereka resmi menjadi siswa,” pungkas Nehru. (ajs)





