Mamuju, Mesakada.com — Hujan deras turun di Mamuju, seperti nada minor dalam orkestra kehidupan yang telah biasa dimainkan, Minggu 26 Januari.
Berjam-jam air dari langit mengguyur, membuat sejumlah sudut kota tenggelam dalam genangan. Bukan hanya di bagian kota, banjir dan ancaman bencana hidrometeorologi mengintai di sejumlah kecamatan dan desa di Mamuju. Seolah-olah banjir telah menjadi tamu abadi di ibu kota Sulawesi Barat ini.
Rumah-rumah warga kerap takluk pada air yang menyusup masuk, meresapi lantai-lantai rumah seperti mengklaim ruang yang bukan miliknya.
Di jalan utama, Jl Urip Sumoharjo, air meluap hingga sebetis orang dewasa, membuat langkah terasa berat dan motor terpaksa melaju perlahan. Tak jauh dari sana, Jl Pababari, seperti sahabat lama banjir, kembali menjadi saksi langganan peristiwa ini.
Di tengah pemandangan yang sama, seorang warga setempat menghela napas panjang, sorot matanya menyimpan keluhan yang tak asing.
“Kondisi seperti ini sudah biasa kalau hujan deras berjam-jam di Mamuju,” katanya sambil menunjuk genangan air yang enggan surut.
Ia menggeleng, seolah bertanya tanpa jawaban. “Solusi dari pemerintah belum nyata. Banjir masih terjadi. Bayangkan, Mamuju belum jadi kota besar saja sudah begini. Bagaimana kalau nanti pesat? Harus ada aksi nyata dari pemerintah,” sebut dia.
Suara warga ini bergema seperti jerit sunyi di tengah genangan air, menuntut perhatian yang kerap hilang di balik janji-janji tak terwujud. Mamuju terus bertahan, dengan banjir yang datang sebagai pengingat, bahwa kota ini masih memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. (*)







