Mamuju, Mesakada.com — Harapan besar terhadap pengembangan Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia kini mengarah ke Mamuju, Sulbar. Wilayah ini disebut sebagai salah satu lokasi paling prospektif dan diproyeksikan menjadi pilot project hilirisasi mineral strategis nasional.
Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap logam tanah jarang, yang digunakan dalam industri pertahanan, elektronik, hingga teknologi satelit, Indonesia dinilai memiliki posisi penting. Pemerintah pun telah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk memperkuat riset dan pengembangan komoditas tersebut.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Dr Lucas Donny Setijadji menyebutkan, bahwa riset logam tanah jarang di Indonesia sebenarnya telah berlangsung lama, termasuk di wilayah Mamuju.
“Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang,” ujar Lucas, beberapa waktu lalu, dikutip di ugm.ac.id.
Menurutnya, perhatian global terhadap logam tanah jarang meningkat setelah Tiongkok membatasi ekspor komoditas tersebut. Kondisi ini mendorong negara-negara industri seperti Jepang untuk aktif membiayai riset dan eksplorasi di berbagai kawasan, termasuk Indonesia.
Mamuju sendiri mulai mendapat perhatian setelah ditemukan anomali radioaktif oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dari penelitian lanjutan, diketahui wilayah ini memiliki kandungan logam tanah jarang yang cukup tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia.
“Dalam perjalanannya, diketahui bahwa kandungan logam tanah jarangnya tinggi di Indonesia,” jelasnya.
Lucas menegaskan, meski potensinya besar, pengembangan logam tanah jarang di Indonesia, termasuk di Mamuju, masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Hingga saat ini, Indonesia juga belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk komoditas tersebut.
Ia menilai, pemerintah memilih langkah hati-hati karena logam tanah jarang merupakan sumber daya strategis yang harus dikelola sesuai amanat konstitusi.
“Indonesia memang relatif tertinggal, tetapi itu juga karena kehati-hatian kebijakan pemerintah,” katanya.
Lebih lanjut, Lucas menyoroti tantangan utama dalam pengembangan LTJ, yakni penguasaan teknologi ekstraksi. Hal ini disebabkan karakter mineral yang kompleks serta sering berasosiasi dengan unsur radioaktif.
“Setiap lokasi memiliki karakter berbeda, sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik,” ujarnya.
Meski demikian, keberadaan BIM dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius mendorong riset dan kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam pengelolaan mineral kritis.
Dengan potensi yang dimiliki, Mamuju kini berada di garis depan sebagai harapan baru Indonesia dalam mengembangkan industri logam tanah jarang.
Jika berhasil dikelola, bukan hanya memperkuat posisi Indonesia di pasar global, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah. (*)





