Mamuju, Mesakada.com — Personel Pemadam Kebakaran (Damkar) Mamuju mengungkapkan suka duka dalam menjalani profesi sebagai pemadam kebakaran. Di balik tugas yang menuntut kesiapsiagaan selama 24 jam, ada suka duka yang harus dijalani petugas Damkar Mamuju, termasuk rela meninggalkan keluarga hingga kerap mendapat protes dari istri karena jarang pulang.
Kabid Pemadam Kebakaran (Damkar) Dinas Satpol PP dan Damkar Mamuju, Randi Noertadi, mengatakan kehidupan para petugas banyak dihabiskan untuk menjalankan tugas dan bersiaga di posko. Salah satu hal yang menjadi kesukaan petugas adalah bisa berkumpul bersama rekan-rekan di posko.
Selain itu, kepuasan terbesar petugas adalah ketika dapat membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Senyum dari warga setelah mendapatkan bantuan menjadi penyemangat tersendiri bagi para personel.
“Sukanya bisa berkumpul sama teman-teman di posko, membantu masyarakat, senyum dari masyarakat itu menjadikan semangat kita jadi semakin membara dan sukanya tanggal gajian,” kata Randi, Selasa (8/9/2026).
Meski begitu, pekerjaan tersebut juga memiliki sisi duka. Petugas harus siap meninggalkan keluarga kapan saja ketika mendapat panggilan untuk menangani kebakaran atau keadaan darurat. Randi mengungkapkan, kondisi tersebut terkadang membuat anak dan istri mempertanyakan keberadaan mereka di rumah.
Petugas yang lebih sering berada di posko dan lokasi kejadian membuat waktu bersama keluarga menjadi terbatas. Tak jarang, istri pun memprotes karena suami terlalu sering pergi dan jarang pulang. Kekhawatiran keluarga juga semakin besar karena pekerjaan Damkar memiliki risiko keselamatan yang tinggi.
“Kalau dukanya terutama anak istri sering ditinggal. Kadang protes kenapa selalu pergi jarang pulang, mereka juga khawatir di rumah apakah kami pulang dengan selamat atau pulang tinggal nama,” cerita Randi.
Keluarga, kata Randi, tentu berharap setiap kali petugas berangkat menjalankan tugas, mereka dapat kembali ke rumah dalam keadaan selamat. Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu konsekuensi yang harus diterima keluarga para petugas Damkar.
Di tengah suka duka tersebut, Randi berseloroh ada satu hal sederhana yang juga selalu dinantikan para personel, yakni tanggal gajian. Namun, candaan itu tidak menghilangkan harapan agar kesejahteraan petugas Damkar ke depan semakin diperhatikan.
Randi berharap kesejahteraan personel dapat ditingkatkan, termasuk dari sisi penghasilan. Menurutnya, peningkatan tersebut layak dipertimbangkan karena petugas Damkar menjalankan pekerjaan dengan risiko yang cukup tinggi. Ia juga berharap sarana dan prasarana Damkar diperkuat.
Salah satu harapannya, setiap kecamatan di Kabupaten Mamuju dapat memiliki kendaraan Damkar sehingga penanganan kebakaran bisa dilakukan lebih cepat dan masyarakat mendapat pelayanan secara maksimal.
“Kesejahteraan personel mudahan bisa ditingkatkan. Termasuk peningkatan gaji karena pekerjaan berisiko tinggi. Terakhir kalau bisa setiap kecamatan harus bisa mobil damkar,” pungkasnya. (*)







