Mamasa, Mesakada.com — Derasnya arus Sungai Aralle kembali memutus akses warga Dusun Palado, Desa Indobanua, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya penghubung masyarakat menuju ibu kota desa hingga Kecamatan Mambi rusak diterjang banjir, membuat aktivitas warga lumpuh total.
Akibat putusnya jembatan tersebut, warga kesulitan keluar masuk dusun untuk berkebun, berbelanja kebutuhan pokok hingga mengakses layanan pendidikan dan kesehatan. Bahkan, distribusi air bersih ke Dusun Palado ikut terputus pascabanjir.
Kepala Desa Indobanua, Dulla M, mengatakan jembatan itu pertama kali dibangun melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) pada 2010. Kemudian direhabilitasi menggunakan anggaran desa pada 2022. Namun pada awal 2024, jembatan kembali mengalami kerusakan dan sempat diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat.
“Tidak ada alternatif jalan lain bagi masyarakat. Sungai yang harus diseberangi memiliki panjang sekitar 60 meter dengan kedalaman mencapai lima meter saat normal, dan bisa mencapai 10 meter saat banjir,” ujar Dulla, Minggu (17/5/2026).
Ia menegaskan, jembatan Palado merupakan akses vital warga untuk menuju Dusun Galung, ibu kota desa hingga Kecamatan Mambi. Jalur tersebut digunakan masyarakat untuk berkebun, menjual hasil pertanian dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Dusun Palado, Ilham, menyebut sebanyak 19 kepala keluarga terdampak langsung akibat putusnya jembatan tersebut. Di dusun itu terdapat satu lansia, dua ibu hamil dan 14 balita yang kini kesulitan beraktivitas.
Selain itu, fasilitas pendidikan di Dusun Palado juga ikut terdampak. Terdapat satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan tujuh tenaga pendidik dan 12 siswa. Sementara 11 pelajar SMP dan SMA yang bersekolah di Kelurahan Talippuki dan Kecamatan Mambi juga harus melewati jembatan tersebut setiap hari.
“Putusnya jembatan sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Warga Dusun Sambaho juga bergantung pada akses ini untuk ke sawah dan kebun,” kata Ilham.
Ia menambahkan, saat ini warga mengalami kesulitan memanen padi gunung yang sudah matang karena tidak dapat menyeberangi sungai.
“Padi kami sudah siap panen, tapi jembatan putus. Itu satu-satunya akses masyarakat untuk menyebrangi sungai,” tuturnya. (ajs)





