Tiga Kabupaten di Sulbar Rawan Karhutla Imbas Kemarau

oleh

Mamuju, Mesakada.com – Tiga kabupaten di Sulbar masuk kategori rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat kemarau berkepanjangan pada Agustus 2026. BMKG mencatat sudah 60 hari Sulbar tidak turun hujan. 

BMKG mencatat Kabupaten Mamuju kini berstatus waspada, sedangkan Kabupaten Majene dan Polewali Mandar (Polman) telah naik ke level siaga. Peringatan itu dikeluarkan di tengah fenomena El Nino yang telah mencapai kategori sangat kuat dan diperkirakan masih berlanjut hingga awal 2027.

Prakirawan Meteorologi Pertama Stasiun Meteorologi Tampa Padang, Anggie Prabowo, mengatakan berdasarkan pembaruan data tiga dasarian terakhir, beberapa kecamatan di Majene, Polewali Mandar, dan Mamuju mengalami HTH kategori sangat panjang.

“Di beberapa kecamatan bahkan sudah mencapai sekitar 60 hari tanpa hujan sama sekali,” ujar Anggie. 

Ia menjelaskan, di Majene kondisi tersebut terjadi di Kecamatan Tubo Sendana dan Banggae Timur. Sementara di Kabupaten Polewali Mandar terjadi di Kecamatan Campalagian dan wilayah sekitarnya.

“Berdasarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian I Agustus atau periode 1–10 Agustus 2026, Kabupaten Mamuju masuk status waspada, sedangkan Kabupaten Majene dan Polewali Mandar berstatus siaga,” katanya.

Anggie menjelaskan, secara umum musim kemarau di Sulbar mulai berlangsung sejak Dasarian III Juni hingga Juli. Namun, di sebagian wilayah Majene dan Polewali Mandar, musim kemarau telah berlangsung lebih awal, yakni sejak Februari. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kekeringan di dua kabupaten itu meningkat hingga berstatus siaga.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus. Memasuki September hingga Oktober, curah hujan diprakirakan mulai meningkat. Meski demikian, fenomena El Nino yang telah berada pada kategori sangat kuat diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar Januari–Maret 2027.

“Artinya, meskipun musim kemarau secara klimatologis telah berakhir, pengaruh El Nino masih berpotensi menyebabkan curah hujan lebih rendah dari kondisi normal di wilayah Sulawesi Barat,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat juga diminta bijak menggunakan air karena pasokan air berpotensi semakin terbatas selama musim kemarau.

“Harapannya informasi ini dapat segera ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan terkait” pungkasnya. 

Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kesehatan dengan memperbanyak minum air putih, berolahraga, dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah karena debu lebih banyak berterbangan pada musim kemarau. 

Sementara petani diminta memanfaatkan informasi prakiraan curah hujan dan prakiraan musim sebagai acuan menentukan waktu tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.