Majene, Mesakada.com — Nilai siri’ dalam budaya Mandar didorong tidak berhenti sebagai simbol kehormatan, tetapi menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang aman dan mencegah kekerasan berbasis gender di tengah masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Talkshow bertema “Merekonstruksi Makna Siri’ untuk Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Masyarakat Mandar” yang digelar sebagai bagian dari rangkaian seni budaya dan diskusi publik Sure’fest 2026 di Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulbar.
Talkshow tersebut menghadirkan dua pembicara yang membahas pemaknaan siri’ dalam melihat persoalan kekerasan berbasis gender, baik di ruang publik maupun dalam lingkungan terdekat masyarakat.
Muhajidin mengatakan siri’ merupakan bagian dari upaya menjaga martabat diri sendiri sekaligus menghormati martabat orang lain. Karena itu, nilai tersebut menurutnya perlu ditempatkan sebagai landasan untuk mencegah kekerasan berbasis gender.
“Siri’ bagian dari menjaga martabat diri sendiri dan orang lain, karena kita punya harga diri harus tetap diperjuangkan,” katanya.
Ia mengajak peserta yang mayoritas merupakan pelajar di Kecamatan Sendana untuk ikut menciptakan ruang aman bagi siapa pun, terutama korban kekerasan berbasis gender.
“Siapapun, di manapun kita sebagai manusia mesti saling menciptakan ruang aman terutama bagi korban kekerasan berbasis gender,” ujarnya.
Muhajidin juga menyoroti lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah semestinya menjadi ruang aman bagi siswa dan memiliki mekanisme pencegahan kekerasan.
Ia berharap pihak sekolah dapat menyediakan satuan tugas atau mekanisme perlindungan sesuai regulasi yang berlaku untuk mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan.
Pembicara lainnya, Mega Haruna, mengingatkan peserta bahwa kekerasan berbasis gender dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk tindakan yang kerap dianggap sepele di ruang publik.
“Kekerasan itu ada yang secara fisik seperti kontak langsung, kekerasan nonfisik dengan catcalling yaitu kekerasan seksual secara visual,” ujarnya.
Menurut Mega, pemaknaan siri’ yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Mandar dapat menjadi instrumen penting untuk mencegah kekerasan berbasis gender.
“Nilai siri’ dapat menjadi instrumen penting untuk mencegah kekerasan berbasis gender. Siri’ harus dimaknai sebagai nilai yang melindungi martabat, bukan membenarkan kekerasan,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Naifa, mengatakan kegiatan tersebut menambah pemahamannya mengenai kekerasan berbasis gender, terutama bagi dirinya dan peserta lain yang mengikuti talkshow.
“Dengan adanya talkshow ini bisa menambah wawasan terutama soal kekerasan berbasis gender,” katanya.
Ia berharap kampanye bertema “Merekonstruksi Makna Siri’ untuk Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Masyarakat Mandar” tidak berhenti pada kegiatan tersebut, tetapi dapat diperluas kepada masyarakat.
Sementara itu, Direktur Kartini Manakarra, Dian Diniati, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada sesi diskusi. Menurutnya, masyarakat yang mengalami atau mengetahui persoalan kekerasan berbasis gender dapat menyampaikan pengaduan kepada Kartini Manakarra.
“Kami di Kartini Manakarra terbuka seluas-luasnya bagi siapapun untuk menyampaikan aduannya terkait dengan kekerasan berbasis gender,” katanya.
Dian mengatakan Kartini Manakarra telah berdiri sejak 2008 dan terus terlibat dalam upaya mendorong perlindungan terhadap korban kekerasan berbasis gender serta penguatan kebijakan terkait isu tersebut.
Dalam menjalankan kerja-kerja advokasi tersebut, Kartini Manakarra juga berkolaborasi dengan sejumlah lembaga nasional dan internasional, di antaranya KAPAL Perempuan dan Plan Indonesia sebagai lembaga pendukung. (ifn/ajs)






