Campalagian, Mesakada.com — Sebagian siswa SMAN 2 Campalagian harus menempuh perjalanan berbeda untuk sampai ke sekolah. Mereka harus menyeberangi Sungai Maloso menggunakan perahu dari Desa Rumpa, Kecamatan Mapilli, menuju Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Perahu menjadi pilihan utama para pelajar sejak SMAN 2 Campalagian berdiri pada 2016. Jalur air dinilai sebagai akses terdekat menuju sekolah dibandingkan jalur darat yang mengharuskan mereka memutar melalui Jembatan Mapilli.
Firmansah, salah seorang siswa, mengatakan menyeberangi sungai telah menjadi bagian dari rutinitasnya setiap hari.
“Setiap hari ka sama teman-temanku naik perahu ke sekolah,” tuturnya ketika diwawancara.
Menurut Firmansah, ongkos penyeberangan sebesar Rp 5.000 per hari ditanggung oleh pihak sekolah. Kebijakan tersebut membuat para siswa tidak perlu mengeluarkan uang jajan untuk membayar biaya perjalanan ke sekolah.
“Na tanggung sekolah biaya menyebrangnya, Rp5.000 per hari,” ujarnya.
Pemilik perahu, Papa Tuti mengatakan, perahu tersebut menjadi akses terdekat yang menghubungkan Desa Rumpa dengan Desa Katumbangan. Artinya, tidak ada akses lain yang lebih dekat bagi masyarakat maupun pelajar selain menyeberang menggunakan perahu.
“Nandiangmo laengna’ mala naola masyarakat maupun passikolah mua tania mallambang lopi,” ujarnya.
Jalur darat sebenarnya tersedia. Namun, perjalanan melalui Jembatan Mapilli membutuhkan waktu lebih lama karena warga harus menempuh jarak yang lebih jauh.
“Adaji tapi lewat Jembatan Mapilli, namun jaraknya jauh. Diang bai tapi karambo ihh,” katanya.
Bukan hanya pelajar yang bergantung pada jalur tersebut. Warga Desa Rumpa dan Desa Katumbangan juga memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas, mulai dari menuju kebun dan sawah hingga berbelanja ke Pasar Tradisional Wonomulyo.
Di kawasan penyeberangan tersebut, perahu bukan sekadar sarana transportasi. Bagi sebagian warga, perahu juga menjadi sumber penghasilan. Sejumlah masyarakat menggantungkan mata pencaharian dengan menyediakan jasa penyeberangan.
Setiap hari, Sungai Maloso menjadi bagian dari aktivitas warga. Bagi 13 pelajar SMAN 2 Campalagian, sungai itu menjadi jalur singkat menuju ruang kelas. Sementara bagi masyarakat lainnya, jalur air tersebut menjadi penghubung untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. (ifn/ajs)






