Mamuju, Mesakada.com – Rektor Universitas Tomakaka Mamuju, Sahril, menilai satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan dinamika kepemimpinan yang menarik.
Menurutnya, Prabowo tampak berusaha memainkan peran strategis sebagai pemimpin tanpa melupakan semangat merangkul semua pihak, baik teman maupun lawan politiknya saat Pilpres.
“Berdasarkan apa yang kita lihat, beliau mencoba memainkan peran-peran strategisnya sebagai pemimpin tetapi tidak melupakan bagaimana merangkul baik lawan politik ataupun teman-temannya pada saat di Pilpres misalnya itu,” ujar Sahril.
Namun demikian, Sahril melihat pemerintahan saat ini tampak “gemuk” dan menghadapi tantangan dalam pengambilan keputusan. Ia menilai, Presiden Prabowo seolah masih dibayangi kekuatan lain yang membuatnya sulit bertindak secara penuh sebagai kepala negara.
“Ada keadaan di mana beliau ini entah apakah dia dibayang-bayangi oleh kekuatan yang lain atau tidak, tetapi kelihatan bahwa beliau agak sulit secara totalitas mengambil keputusan sebagai presiden,” ujarnya.
Sahril juga menyinggung soal meningkatnya kasus korupsi yang tampak belakangan ini. Menurutnya, hal tersebut bisa jadi bukan semata karena meningkatnya perilaku koruptif, tetapi karena semakin terbukanya pemerintahan.
“Kelihatan makin subur korupsi, tapi boleh jadi munculnya itu karena fenomena kepemimpinan beliau yang kemudian malah justru ketahuan semua,” tuturnya.
Lebih jauh, Sahril menyoroti persoalan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai itu sejatinya selalu cocok untuk diterapkan di zaman apa pun, hanya saja manusianya yang sulit konsisten.
“Nilai Pancasila itu zaman apa pun selalu cocok, hanya saja memang manusianya yang sulit. Kita sebagai orang Indonesia kadang menganggap nilai-nilai Pancasila itu menjadi beban,” katanya.
Ia juga menilai era digital saat ini menjadi tantangan tersendiri karena masyarakat terlalu larut dalam kenyamanan media sosial.
“Sedikit rumit karena era destruktif, artinya ketidakpastian. Saya mengatakan habis seperempat waktu, bahkan setengah waktu dalam sehari itu habis hanya memanjakan pikiran, memanjakan rasanya melalui media sosial,” ujar Sahril.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat masyarakat kehilangan arah dalam menegakkan nilai kebangsaan dan kemanusiaan yang terkandung dalam Pancasila. (*)







