Namun, perjuangan tersebut tidak selalu mudah. Sejumlah masjid yang digunakan sebagai tempat belajar masih dalam kondisi memprihatinkan. Ketersediaan Alquran pun menjadi salah satu kendala dalam proses pembelajaran.
“Belajarnya di masjid yang kondisinya juga cukup memprihatinkan. Kami juga kekurangan Alquran yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk belajar mengaji,” katanya.
Untuk mencapai Desa Botteng dari Polsek Mambi, Bripka Nur Alam harus menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer. Dari jarak tersebut, sekitar 10 kilometer di antaranya merupakan ruas jalan yang masih rusak parah dan sulit dilalui.
Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri, terlebih ketika musim hujan tiba. Jalan yang rusak membuat perjalanan menuju lokasi binaan semakin sulit.
“Kalau jaraknya itu sekitar 15 kilometer dari Polsek. Tapi sekitar 10 kiloan yang masih rusak parah dan sulit dilalui, apalagi saat musim penghujan,” ujarnya.
Meski demikian, kondisi medan tak membuat Bripka Nur Alam menyerah. Sedikitnya tiga kali dalam sepekan dia tetap berusaha mendatangi anak-anak untuk mengajar mengaji. Frekuensinya bahkan bisa bertambah ketika tugas kedinasan tidak terlalu padat.
“Paling sedikit tiga kali seminggu saya mengajar mengaji. Kalau lagi tidak banyak tugas kedinasan, biasanya bisa lebih, tergantung kondisi,” tuturnya.
Dedikasi tersebut rupanya mendapat perhatian dari masyarakat. Sejumlah warga bahkan meminta Bripka Nur Alam tinggal di desa agar bisa lebih intensif mendampingi anak-anak.
“Warga sering meminta saya tinggal. Tapi sulit juga, karena kita sebagai polisi juga banyak tugas lain yang tidak kalah penting,” jelasnya.
Pengabdian Bripka Nur Alam tidak berhenti pada kegiatan mengajar mengaji. Bersama seorang ulama setempat, dia kini tengah merancang pembangunan rumah tahfidz Alquran.
Rumah tahfidz tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat belajar bagi masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu. Anak-anak maupun orang tua yang ingin belajar membaca Alquran akan diberikan kesempatan belajar secara gratis.
“Yang tidak mampu, orang tua tidak mampu baca tulis Alquran kita kasih masuk semua di sana, gratis. Kami sementara berusaha cari lahan, Insya Allah terwujud,” ungkapnya.
Bagi Bripka Nur Alam, menjadi polisi bukan hanya tentang menjaga keamanan. Pengabdian juga dapat dilakukan dengan memberikan ilmu dan mendampingi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan mengaji tersebut, dia berharap anak-anak di pedalaman Mamasa semakin dekat dengan Alquran sekaligus tumbuh dengan pendidikan agama yang baik.
Lebih dari itu, kegiatan sederhana tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat.
“Selain memberikan rasa aman dan tenteram kepada masyarakat, melalui kegiatan ini kami berharap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Polri,” pungkasnya. (*)







