Polman, Mesakada.com — Puluhan hektare lahan bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulbar, dilaporkan gagal panen akibat serangan hama ulat yang mengganas dalam beberapa pekan terakhir. Petani pun berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan dan solusi atas kerugian yang mereka alami.
Serangan hama terjadi saat tanaman memasuki masa panen pada April 2026. Namun, alih-alih dipanen, sebagian besar tanaman justru rusak parah akibat serangan ulat yang berlangsung cepat dan masif.
Salah seorang petani, Subaer, mengungkapkan serangan hama terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Suruang, Kecamatan Campalagian, hingga beberapa titik di Kecamatan Balanipa.
“Kerugian kami mencapai sekitar Rp 2 miliar lebih. Itu baru dihitung dari harga bibit, karena kami beli bibit mulai Rp 4,5 juta sampai Rp 5,7 juta,” kata Subaer saat ditemui di lahannya, Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, nilai tersebut belum termasuk biaya operasional lain selama masa tanam, seperti pupuk, pestisida, hingga pembukaan lahan.
“Belum lagi biaya pupuk, pestisida, dan ongkos pembukaan lahan. Jadi total kerugian pasti jauh lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, serangan hama ulat terjadi secara tiba-tiba dan sulit dikendalikan, sehingga tanaman tidak dapat diselamatkan. Para petani pun terpaksa mencabut sisa tanaman yang telah rusak.
“Saat ini kami hanya bisa mencabut sisa bawang yang sudah dimakan ulat. Harapan panen sudah tidak ada,” ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, para petani mendesak pemerintah daerah segera hadir memberikan penanganan konkret, baik dalam pengendalian hama maupun bantuan pemulihan ekonomi.
“Bencana ini perlu diperhatikan. Harusnya perhatian pemerintah sama seperti bencana kebakaran, karena hama ulat ini juga termasuk bencana bagi petani,” tegas Subaer.
Selain kerugian ekonomi, petani juga mengkhawatirkan dampak lanjutan terhadap ketersediaan bawang merah di wilayah Polman dalam waktu dekat, jika serangan hama tidak segera diatasi. (*)






