Peneliti Masih Cari Teknologi LTJ Botteng yang Diklaim Minim Dampak Lingkungan

oleh
Orasi. Warga Desa Botteng, Kecamatan Simboro, berorasi dalam aksi unjuk rasa penolakan hadirnya LTJ di Desa Botteng, pekan lalu.

Mamuju, Mesakada.com — Teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) yang diklaim minim dampak lingkungan untuk mengolah LTJ di Mamuju, Sulawesi Barat, baru dicari atau masih dalam tahap riset. Teknologi tersebut bahkan ditargetkan mampu menekan dampak lingkungan hingga mendekati zero waste.

Ketua Kelompok Riset Teknologi Mineral Logam Tanah Jarang, Prof Widi Astuti mengatakan, riset teknologi tersebut dilakukan seiring dengan tahapan eksplorasi LTJ oleh PT Perminas.

“Sambil Perminas melakukan eksplorasi, kami melakukan riset untuk mencari teknologi yang seminimal mungkin akan mencemari lingkungan. Kalau bisa zero waste,” kata Prof Widi, saat dialog dengan warga Botteng, pekan lalu.

Prof Widi menegaskan, pengolahan LTJ nantinya juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Tanah yang tersisa dari proses pengolahan tidak dihabiskan begitu saja, melainkan diupayakan untuk dikembalikan dan dimanfaatkan kembali.

“Kita tidak habiskan tanahnya. Itu dikembalikan ke alam, bisa kita tanami lagi sebisa mungkin, itu bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Selain itu, ia menjelaskan, unsur radioaktif seperti thorium dan uranium yang dapat terkandung dalam mineral LTJ juga memiliki nilai strategis. Selain berkaitan dengan kebutuhan energi nuklir, material tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, termasuk teknologi terapi berbasis radioaktif.

“Justru dengan melakukan pengolahan LTJ, kita mengurangi sumber (radioaktif) itu dari alam (Botteng). Kalau bisa kita ambil LTJ atau mungkin radioaktifnya, itu bersih di sini (Botteng) karena kita ambil radioaktifnya,” kata Widi.

Riset LTJ Sudah 30 Tahun

Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, Prof Ratno Nuryadi mengatakan, riset LTJ di Indonesia sebenarnya telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Bahkan, penelitian tersebut telah dilakukan sejak sebelum BRIN terbentuk.

Namun, menurutnya, hasil riset selama ini masih lebih banyak berada pada tahap ilmu pengetahuan dan belum sepenuhnya menghasilkan produk industri yang dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Kami dari BRIN riset LTJ itu sudah 30 tahun lebih, sebelum BRIN ada. Riset ini sejak dulu dilakukan, tapi outputnya sampai sekarang masih sebatas ilmu pengetahuan, belum ada produk yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat secara industri,” kata Prof Ratno.

Meski demikian, ia menyebut teknologi pengolahan LTJ sebenarnya telah berhasil dikembangkan pada skala laboratorium.

“Secara lab itu sudah ada kita lakukan. Bahkan banyak periset kami sudah pensiun, tapi ilmunya sampai saat ini ada,” ujarnya.

Prof Ratno menilai pengembangan teknologi LTJ menjadi momentum penting karena teknologi pengolahan mineral tersebut saat ini hanya dikuasai oleh sejumlah negara tertentu.

“Teknologi LTJ itu hanya ada di negara tertentu saja, seperti China,” katanya.

Ia menegaskan, teknologi yang nantinya diaplikasikan dalam pengolahan LTJ di Indonesia diharapkan merupakan hasil pengembangan para peneliti dalam negeri.

“Teknologi LTJ yang akan diaplikasikan itu karya anak bangsa,” pungkasnya. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.