Mamuju, Mesakada.com – Krisis air bersih di Kecamatan Balabalakang, Kabupaten Mamuju, Sulbar, belum juga berakhir. Kondisi kekeringan bahkan membuat sejumlah warga dilaporkan tidak memasak hingga tiga hari karena persediaan air mereka telah habis.
Camat Balabalakang, Sunarjo, mengatakan hampir seluruh pulau di wilayahnya terdampak kekeringan. Ia menerima laporan dari sejumlah kepala dusun mengenai warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
“Sudah ada beberapa warga yang tidak memasak sampai tiga hari karena tidak ada air untuk digunakan. Persediaan air mereka sudah habis,” kata Sunarjo, kemarin.
Menurutnya, bantuan sekitar 30 ton air bersih yang sebelumnya dikirim Pemkab Mamuju sangat membantu masyarakat. Namun, jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan warga yang menghadapi kekeringan berkepanjangan.
Sunarjo berharap pengiriman berikutnya dapat ditingkatkan menjadi sekitar 50 hingga 60 ton air bersih. Menurutnya, kebutuhan masyarakat masih cukup besar karena kekeringan telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Pemkab kini kembali menyiapkan bantuan air bersih dalam rangka penanganan tanggap darurat.
Hanya saja, Sunarjo menjelaskan pengiriman air terkendala jadwal kapal perintis yang tidak setiap hari. Kapal baru akan ke Balabalakang pada trayek berikutnya usai dari Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim).
Ia memperkirakan, trayek menuju Balabalakang tersedia sekitar lima hingga enam hari setelah keberangkatan kapal tersebut. Menurut Sunarjo, penggunaan kapal di luar kapal perintis membutuhkan biaya besar. Sekali perjalanan keliling dapat menghabiskan sedikitnya Rp10 juta untuk operasional dan bahan bakar minyak, sementara kapasitas angkutnya hanya sekitar 3 hingga 4 ton.
“Tidak ada pilihan lain selain kapal perintis karena kalau menggunakan kapal di luar kapal perintis, biayanya sangat besar,” katanya.
Selain penanganan darurat, pemerintah didorong menyiapkan solusi jangka panjang agar krisis serupa tidak terus berulang. Sunarjo mengatakan penambahan penampungan air menjadi salah satu kebutuhan utama karena saat ini di sejumlah pulau rata-rata hanya tersedia satu hingga tiga penampungan.
Teknologi penyulingan air laut juga dinilai dapat menjadi alternatif. Namun, instalasi tersebut membutuhkan biaya pengadaan dan pemeliharaan yang tidak sedikit. Salah satu instalasi penyulingan di Pulau Salissingan bahkan kini mengalami kerusakan dan perbaikannya diperkirakan membutuhkan biaya puluhan juta rupiah.
“Harapannya, jika pemerintah memberikan bantuan pengadaan penyulingan air bersih, sekaligus disertai dengan anggaran pemeliharaan,” ujar Sunarjo.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Mamuju, M. Fausan Basir mengatakan, bantuan tersebut disiapkan untuk tiga kali pengiriman.
“Dalam konteks tanggap darurat saat ini, bantuan disiapkan untuk tiga kali pengiriman,” kata Fausan, Selasa (8/9/2026).
Namun, jumlah air untuk setiap pengiriman berikutnya belum ditentukan secara pasti. Distribusi bantuan juga masih bergantung pada jadwal kapal perintis yang melayani rute menuju Kecamatan Balabalakang.
Untuk menghadapi potensi kekeringan pada tahun berikutnya, Fausan meminta dua pemerintah desa di Kecamatan Balabalakang mulai menyiapkan anggaran khusus penanganan kekeringan pada 2027, terutama untuk penyediaan air bersih.
“Desa memiliki anggaran untuk penanganan bencana, tetapi terbatas dan hanya dapat digunakan sesuai ketentuan,” kata Fausan.
Kepala BPBD Mamuju, Muh. Taslim mengatakan, bantuan air yang sebelumnya dikirim berasal dari PDAM sehingga dapat digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak dan minum. Pemkab juga menyiapkan sekitar 10 tandon berkapasitas 2.200 liter, sekitar 10 jeriken, serta pompa air untuk mendukung distribusi.
Pengiriman bantuan air bersih akan digabung dengan bantuan beras sekitar 5,9 ton. Bantuan tersebut direncanakan diangkut menggunakan kapal perintis yang melayani rute menuju Balabalakang.
Taslim mengatakan pemerintah juga memasukkan biaya penggunaan kapal-kapal kecil untuk mengangkut air dan jeriken ke pulau-pulau yang tidak memiliki dermaga atau tidak dilalui kapal perintis.
“Kami juga memasukkan biaya kapal-kapal kecil yang akan mengangkut jeriken ke pulau-pulau kecil. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan jumlah kapal yang tersedia di sana,” ujar Taslim. (*)







