Mamuju, Mesakada.com — Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK) dan Bupati Mamuju, Sutinah Suhardi disebut telah sepakat jika proses eksplorasi Logam Tanah Jarang (LTJ) oleh PT Perminas di Mamuju. Namun dengan catatan minim dampak lingkungan dan keterlibatan teknologi dan tenaga lokal.
PT Perminas pun memastikan kegiatan eksplorasi di lebih 30 titik di Desa Botteng itu akan berjalan dengan komitmen meminimalkan dampak lingkungan serta mengutamakan tenaga dan teknologi dalam negeri. Termasuk Komitmen menyediakan kompensasi kepada warga yang lahannya digunakan sebagai titik pengeboran.
Hal itu disampaikan dalam dialog bersama masyarakat, mahasiswa dan akademisi di STAI Al-Azhary Mamuju, Sabtu (5/9/2026). Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis PT Perminas, La Ode Tarfin Jaya mengatakan, komitmen tersebut sejalan dengan arahan Gubernur SDK dan Bupati Sutinah Suhardi.
“Itu pula komitmen kami dengan gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Bupati Mamuju Sutinah Suhardi. Bahwa kegiatan eksplorasi ini baru kegiatan awal yang masih butuh waktu sampai pada pelaksanaan operasi produksi. Dan tentunya kami minimalkan terkait dengan kerusakan lingkungan,” kata La Ode.
Menurutnya, pemerintah daerah dan Perminas memiliki semangat yang sama agar potensi LTJ di Mamuju dapat dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri. Bahkan, perusahaan membuka peluang bagi putra-putri daerah yang memiliki keahlian di bidang LTJ untuk terlibat dalam pengembangan proyek tersebut.
“Kita ingin dikelola bangsa kita. Jadi termasuk ada tawaran dari banyak dari beberapa negara, kami coba pakai model baru bahwa bangsa kita sudah sangat maju dan mampu,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong putra daerah Mamuju yang memiliki keahlian terkait LTJ untuk bergabung dan berkontribusi dalam pengembangan Perminas ke depan.
“Kita ingin putra-putri terbaik bangsa, kalau bisa dari Mamuju misalnya. Ada putra daerah keahlian dalam LTJ hubungi saya supaya kita bisa libatkan di Perminas ke depan,” katanya.
La Ode juga memastikan Perminas tidak ingin mengulang pola pengelolaan pertambangan yang minim melibatkan masyarakat lokal.
“Pandang Perminas bukan sebagai tamu, kami datang sebagai saudara. Seluruh tenaga kerja dan teknologi semua dari bangsa kita. Morowali tidak mau kita terulang,” tegasnya.
Untuk meningkatkan keterlibatan tenaga lokal, Perminas bahkan mencoba mengubah metode eksplorasi. Jika penggunaan mesin bor konvensional hanya membutuhkan sedikit tenaga lokal sebagai helper, perusahaan mulai mempertimbangkan penggunaan metode hand auger yang dinilai dapat menyerap lebih banyak pekerja setempat.
“Kami coba rubah model eksplorasinya dengan menggunakan hand auger sehingga pekerja lokal bisa banyak,” jelasnya.
Selain tenaga kerja, Perminas juga menekankan aspek perlindungan lingkungan selama proses eksplorasi. Perusahaan mengaku telah memetakan titik eksplorasi berdasarkan data radiometris sebelumnya, termasuk data Badan Geologi yang pernah melakukan pengeboran di wilayah Desa Takandeang dan Desa Botteng.
La Ode mengatakan pemetaan tersebut dilakukan agar paparan radiasi dapat ditekan sekecil mungkin. Setelah pengeboran selesai, lubang bor juga akan disemen untuk memastikan keamanan.
“Terus tentang eksplorasi itu kita sudah petakan dari data radiometris sebelumnya dari data-data Badan Geologi yang pernah pengeboran di Desa Takandeang dan Desa Botteng. Jadi data itu kita sesuaikan agar paparan radiasinya sekecil mungkin,” katanya.
Perminas juga meminta kontraktor memasang oil trap untuk mencegah tumpahan oli selama kegiatan eksplorasi. Sementara limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) akan dikelola sesuai ketentuan.
“Kita pro terhadap lingkungan. Kita pakai slogan Green LTJ,” pungkas La Ode. (*)







