Polman, Mesakada.com — Erosi Sungai Pappandangan di Desa Pappandangan, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, kian mengkhawatirkan. Pengikisan tebing sungai yang berlangsung sejak 2018 itu kini mengancam sedikitnya 30 rumah warga.
Erosi terus mengikis daratan di bantaran sungai hingga mencapai sekitar 120 meter. Aliran sungai bahkan mulai mendekati bagian belakang rumah warga dan merusak sejumlah fasilitas bangunan. Salah satu rumah warga menjadi korban. Bagian kamar mandi rumah tersebut telah hilang setelah tergerus aliran Sungai Pappandangan. Pemilik rumah bahkan terpaksa memindahkan bangunannya lebih dekat ke badan jalan untuk menghindari ancaman erosi.
Anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Polman, Abu, mengatakan erosi tersebut telah berlangsung secara perlahan sejak 2018 dan berpotensi semakin parah apabila tidak segera ditangani.
“Kejadian erosi Sungai Pappandangan itu sudah terjadi sejak 2018 lalu, terkikis secara perlahan. Kalau tidak segera ditangani, mengancam 30 kepala keluarga atau sekitar 30 rumah,” kata Abu kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).
BPBD Polman bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Polman serta sejumlah anggota DPRD Polman telah meninjau langsung lokasi untuk melihat kondisi tebing sungai yang terus terkikis.
Menurut Abu, pengikisan terjadi karena badan sungai semakin melebar akibat derasnya arus yang terus menghantam tebing. Kondisi tersebut diperparah dengan berkurangnya material batu di dalam sungai.
Berkurangnya material batu tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pengambilan material oleh warga. Kondisi itu membuat arus air semakin deras sehingga mempercepat proses pengikisan tebing sungai.
“Sudah ada satu rumah yang kamar mandinya itu sudah hilang tergerus sungai. Rumahnya juga sudah dipindahkan maju ke pinggir jalan,” ungkap Abu.
Jika tidak segera dilakukan penanganan, erosi dikhawatirkan terus bergerak menuju permukiman. Puluhan rumah warga yang berada di sekitar bantaran sungai pun berpotensi terdampak.
Abu menyebut penanganan erosi tersebut kini menjadi tanggung jawab Dinas PUPR Polman. Salah satu rencana awal yang disiapkan pemerintah adalah melakukan pengerukan sungai menggunakan alat berat.
“Penanganan erosi sungai ini diambil alih oleh Dinas PUPR Polman. Rencana awal akan ada pengerukan sungai menggunakan alat berat,” ujarnya.
Warga kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk menghentikan laju erosi. Mereka khawatir jika penanganan kembali tertunda, bukan hanya pekarangan yang hilang, tetapi rumah-rumah warga juga ikut tergerus Sungai Pappandangan. (ifn/ajs)





