Mamasa, Mesakada.com — Seorang nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) di Mamasa, Febrianti mengaku, menjadi korban dugaan penyalahgunaan data oleh oknum pegawai PNM. Akibatnya, nama nasabah tersebut tercatat bermasalah di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.
Febrianti mengaku pernah mengambil pinjaman di PNM pada pertengahan tahun 2023 dan telah melunasi seluruh angsurannya pada pertengahan tahun 2024. Setelah pinjaman lunas, Febrianti berencana kembali mengajukan pinjaman baru. Namun saat itu, pegawai PNM disebut lambat merespons pengajuan tersebut.
Karena tak kunjung ada kepastian, Febrianti akhirnya meminta keluarganya mengambil tabungan yang sebelumnya ditahan dan hanya bisa dicairkan setelah pinjaman lunas
.
“Beberapa hari setelah tabungan diambil, pegawai PNM kembali menghubungi lewat WhatsApp dan meminta saya menyetor ulang berkas untuk pengajuan baru,” ungkap Febrianti, Jumat (29/5/2026).
Febrianti kemudian kembali menyerahkan seluruh berkas persyaratan. Namun setelah itu, tidak ada lagi kabar dari pihak PNM terkait kelanjutan pengajuan tersebut.
Permasalahan baru diketahui saat korban hendak mengurus kredit perumahan di Kendari. Pihak developer menginformasikan bahwa nama korban tercatat merah di SLIK OJK karena masih memiliki pinjaman aktif di PNM sebesar Rp7,5 juta dan telah menunggak lebih dari satu bulan.
“Saya kaget karena merasa tidak pernah menerima pinjaman baru itu,” katanya.
Febrianti kemudian mendatangi kantor PNM Mamasa untuk meminta penjelasan. Menurut pengakuannya, Kepala Cabang PNM Mamasa menyebut ada pegawai yang telah resign dan diduga menyalahgunakan data nasabah.
Korban juga mengaku sempat menerima surat pelunasan dalam bentuk file dari pihak cabang. Namun saat surat tersebut dibawa ke BRI untuk keperluan pengecekan, pihak bank menyebut surat itu tidak dapat digunakan untuk memulihkan status SLIK.
“Katanya yang harus diselesaikan adalah tunggakannya supaya SLIK bisa kembali normal,” ujarnya.
Kasus ini diduga tidak hanya menimpa satu orang. Setelah korban mengunggah pengalamannya di media sosial Facebook, banyak warga Mamasa lainnya mengaku mengalami hal serupa.
Beberapa korban disebut sebelumnya telah mendatangi kantor PNM untuk mengadukan persoalan tersebut. Namun mereka mengaku tidak mendapatkan solusi dan justru mendapat respons kurang baik dari pegawai. (*)





