Jakarta, Mesakada.com — Badan Industri Mineral (BIM) menyatakan BUMN Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) bakal mengelola tambang logam tanah jarang (LTJ) di Mamuju, Sulbar seluas 23 ribu hektare.
Saat ini BIM sedang menyiapkan penelitian ihwal potensi LTJ di tambang tersebut, untuk nantinya diberikan ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Perminas sebagai bahan pertimbangan ketika menggarap tambang LTJ tersebut.
“Dalam waktu dekat akan segera kita lakukan yaitu pilot teknologi hilirisasi rare earth yang ada di Mamuju. Jadi dalam tahap penelitian ini kita akan membangun dua industri downstreaming sebagai pilot untuk konteksnya riset,” kata Kepala BIM Brian Yuliarto, dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, dikutip dari Bloomberg Technoz, Selasa (10/2/2026).
“Sambil menunggu proses administrasi dan juga rekomendasi yang sudah kami sampaikan kepada Kementerian ESDM untuk keluarnya IUP yang kami merekomendasikan diberikan kepada Perminas,” tegasnya.
Dia menjelaskan Perminas bakal membangun dua fasilitas hilirisasi atau downstreaming sebagai proyek percontohan pengolahan LTJ. Akan tetapi, dia tak menjelaskan lebih lanjut proyek yang bakal digarap Perminas tersebut.
LTJ di Mamuju tersebut diduga memiliki kandungan berupa neodymium-praseodymium (NDPR) serta terbium (Tb) dan dysprosium (Dy). Lebih lanjut, Brian mengatakan penelitian yang dilakukan BIM di wilayah Mamuju tersebut bakal melibatkan perguruan tinggi untuk menentukan teknologi yang bakal digunakan.
“Nah inilah yang kita lakukan di Mamuju, kita coba teknologi beliau dari yang sudah dikembangkan di kampus dan lain-lainnya. Itu kita lakukan untuk mengekstraksi, mengubah dari mineral ore yang mengandung logam tanah jarang menjadi disebutnya mix oxide,” ungkap Brian.
Dalam kesempatan itu, Brian memaparkan 8 blok mineral kritis yang bakal dilakukan penelitian. Brian menyatakan 8 blok tambang tersebut diprediksi memiliki LTJ dan beberapa diantaranya turut memiliki mineral kritis lainnya seperti antimon, tungsten, tantalum, serta timah.
Adapun, blok tambang tersebut tersebar di wilayah pulau Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Berikut daftar 8 blok tambang yang diprioritaskan BIM untuk dilakukan eksplorasi:
1. Blok Toboali (Bangka Belitung)
Komoditas utama: Tungsten sekitar 8.287 parts per million (ppm), logam tanah jarang 2.391 ppm, serta tantalum.
Luas wilayah: 10.000 hektare.
2. Blok Keposang (Bangka Belitung)
Komoditas utama: Logam tanah jarang dengan kadar total sekitar 1.000 ppm.
Luas wilayah: 5.000 hektare.
3. Blok Mentikus (Bangka Belitung)
Komoditas utama: Timah sekitar 23.400 ppm dan tungsten sekitar 9.000 ppm.
Luas wilayah: 200 hektare.
Catatan: Status wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) masih perlu dikonfirmasi.
4. Blok Batubesi (Bangka Belitung)
Komoditas utama: Timah sekitar 5.000 ppm dan tungsten sekitar 2.500 ppm.
Luas wilayah: 500 hektare.
5. Blok Melawi (Kalimantan Barat)
Komoditas utama: Logam tanah jarang dengan kadar total sekitar 81.720 ppm.
Luas wilayah: 54.000 hektare.
Catatan: Sekitar 20% wilayah berada di kawasan hutan lindung.
6. Blok Boyan Hulu (Kalimantan Barat)
Komoditas utama: Antimon dengan kadar sekitar 70%—95%.
Luas wilayah: 8.492 hektare.
Catatan: Sekitar 15% wilayah berada di kawasan hutan lindung.
7. Blok Mamuju (Sulawesi Barat)
Komoditas utama: Logam tanah jarang dengan kadar sekitar 2.000 ppm.
Luas wilayah: 23.000 hektare.
8. Blok Bombana (Sulawesi Tenggara)
Komoditas utama: Logam tanah jarang sekitar 220 ppm dan antimon sekitar 6.170 ppm.
Luas wilayah: 64.000 hektare.
Catatan: Sekitar 60% wilayah berada di kawasan hutan lindung.






