Mamuju, Mesakada.com — Maskapai Batik Air tidak lagi melayani penerbangan rute Mamuju-Makassar setelah tingkat keterisian penumpang dinilai belum memenuhi harapan. Salah satu faktor yang memengaruhi penghentian operasional tersebut adalah tidak berlanjutnya skema subsidi kursi (seat) yang sebelumnya diterapkan.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Perhubungan (Perkimtanhub) Sulbar, Maddareski Salatin menjelaskan, bahwa rencana subsidi penerbangan sebenarnya merupakan tindak lanjut pembahasan antara Pemprov Sulbar dan Pemprov Sulsel, sejak 2025.
Menurutnya, saat itu sempat dibahas skema pembagian subsidi, di mana penerbangan dari Mamuju ke Makassar akan disubsidi oleh Pemprov Sulbar, sementara rute sebaliknya ditanggung Pemprov Sulsel.
“Sebenarnya ini menindaklanjuti pembicaraan tahun lalu terkait masalah subsidi. Dulu pembicaraannya kalau pesawat dari Mamuju ke Makassar disubsidi oleh Pemprov Sulbar, sebaliknya dari Makassar ke Mamuju disubsidi oleh Pemprov Sulsel,” kata Maddareski, Senin (8/6/2026).
Namun, setelah dilakukan komunikasi lanjutan dengan Pemprov Sulsel, skema subsidi tersebut tidak terealisasi dalam bentuk dukungan anggaran seperti yang dibahas sebelumnya.
“Terakhir ada komunikasi dengan Sekprov Sulsel, mengkomunikasikan ulang pertemuan gubernur Sulbar dan Sulsel waktu itu terkait rencana subsidi. Ternyata Pemprov Sulsel tidak memberikan subsidi dalam bentuk anggaran seperti pembicaraan tahun lalu. Yang diberikan hanya kemudahan penyediaan slot atau rute penerbangan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Kondisi tersebut, ditambah tingkat okupansi penumpang yang masih rendah, membuat Batik Air akhirnya menghentikan operasionalnya di Sulbar.
“Akhirnya dengan pertimbangan itu Batik Air berhenti karena kurang penumpang. Penumpang selama ini ketika kita kasih subsidi seat juga tidak memenuhi harapan kami,” tambahnya.
Sebelumnya, Pemprov Sulbar sempat mensubsidi seat untuk menjaga keberlanjutan penerbangan. Skema tersebut mengacu pada pembiayaan kursi kosong apabila jumlah penumpang dalam satu penerbangan tidak mencapai sekitar 70 persen dari kapasitas pesawat.
Meski Batik Air tidak lagi beroperasi, layanan penerbangan Mamuju-Makassar tetap tersedia melalui Wings Air yang menggunakan pesawat ATR. Menariknya, operasional Wings Air kali ini berjalan tanpa subsidi dari Pemprov Sulbar.
Maddareski mengatakan pihaknya terus mencari solusi agar konektivitas udara Sulbar tetap terjaga dan frekuensi penerbangan dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kita terus cari solusi supaya penerbangan bisa setiap hari. Kalau memang Wings Air diminati dan tingkat keterisiannya bagus, maskapai siap mendatangkan lagi pesawat sehingga penerbangan bisa tersedia pagi dan sore,” pungkasnya. (ajs)





