200 Ton Air Sudah Dihabiskan Padamkan 48 Titik Karhutla di Mamuju

oleh
Personel Damkar Mamuju padamkan Karhutla di Gentungan, Kecamatan Kalukku, Selasa (8/9/2026).

Mamuju, Mesakada.com — Lebih dari 200 ton air telah dihabiskan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, sepanjang Januari hingga September 2026. Air tersebut digunakan untuk menangani sedikitnya 48 titik kejadian karhutla yang tersebar di sejumlah wilayah di Mamuju.

Sumber air yang digunakan dalam proses pemadaman berasal dari berbagai pihak, mulai dari BPBD Mamuju dan BPBD Sulbar, Damkar Mamuju dan Damkar Sulbar, hingga dukungan TNI-Polri, PMI serta pihak swasta. Kebutuhan air dalam penanganan karhutla cukup besar karena kondisi medan yang sulit dan kebakaran terjadi di sejumlah lokasi yang jauh dari permukiman.

Kabid Pemadam Kebakaran (Damkar), Dinas Satpol PP dan Damkar Mamuju, Randi Noertadi mengatakan, titikkebakaran paling banyak ditemukan di Kelurahan Rangas dan Desa Sumare, Kecamatan Simboro.

“Air yang kita gunakan lebih dari 200 ton,” kata Randi, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, proses pemadaman juga menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya kondisi peralatan, termasuk selang pemadam yang beberapa kali mengalami kebocoran. Dari empat armada pemadam yang tersedia dan beroperasi, tiga di antaranya digunakan untuk melakukan penyemprotan ke titik-titik api.

Selain armada, sebanyak 104 personel dilibatkan dalam penanganan karhutla. Para personel dibagi dalam beberapa regu dan dilengkapi perlengkapan keselamatan seperti fire jacket dan helm.

Randi menjelaskan, teknik pemadaman karhutla yang dilakukan tidak hanya mengandalkan penyemprotan air. Petugas juga melakukan pemadaman secara fisik dengan mendatangi langsung titik api. Teknik tersebut dinilai penting karena lokasi kebakaran memiliki tingkat risiko yang tinggi.

“Yang paling utama itu fisik, karena karhutla ini terjadi di lokasi yang risikonya tinggi,” ujarnya.

Petugas harus berhadapan dengan sejumlah kondisi saat melakukan pemadaman, mulai dari lingkaran api, angin kencang hingga keberadaan hewan liar. Bahkan, petugas menemukan sejumlah ular di lokasi karhutla. Ular ditemukan dalam kondisi mati akibat terpapar kebakaran.

“Di sana ada ular, ada juga yang mati terkena karhutla,” ungkapnya.

Selain membahayakan petugas dan satwa, sebagian lahan yang terbakar juga diketahui berada di kawasan hutan lindung. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla membutuhkan kehati-hatian sekaligus pengerahan personel dan peralatan secara maksimal agar api tidak semakin meluas. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.