Mamuju, Mesakada.com – Utang Pemprov Sulbar sebesar Rp 290 juta kepada para Passandeq saat kegiatan Sandeq Heritage Festival (SHF) 2024 bermula dari arahan langsung Penjabat (Pj) Gubernur Sulbar saat itu, Bahtiar Baharuddin.
Pada Juni 2024, Dinas Pariwisata Sulbar meminta Ketua Komunitas Bahari Mandar, Ridwan Alimuddin, mempresentasikan konsep awal kegiatan sandeq.
Gagasan pertama adalah pelayaran 17 perahu sandeq klasik ke Kalimantan, untuk selanjutnya ikut serta dalam upacara Hari Kemerdekaan RI di Ibu Kota Nusantara (IKN), dengan anggaran Rp1,1 miliar. Namun, konsep itu ditolak.
“Pj Gubernur malah minta jumlah anggarannya dinaikkan di atas Rp 5 miliar dan kegiatannya melibatkan lebih banyak sandeq,” ungkap Ridwan, kemarin.
Setelah melalui beberapa rapat bersama Gugus Tugas SHF, disepakati kegiatan bertajuk Sandeq Heritage Festival 2024 dalam rangka memperingati 20 tahun Provinsi Sulawesi Barat. Karena keterbatasan anggaran, usulan akhir yang disepakati adalah pelaksanaan festival senilai Rp 2,7 miliar.
Pelaksanaan kegiatan ini memiliki dasar hukum, yakni Keputusan Gubernur Sulbar Nomor 1090 Tahun 2024 tentang Pembentukan Gugus Tugas Sandeq Heritage Festival, tertanggal 31 Agustus 2024.
Dalam SK tersebut, Pj Gubernur Bahtiar sebagai pelindung, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mithhar sebagai Ketua Panitia, Ridwan Alimuddin sebagai Wakil Ketua, dan Kepala Dinas Pariwisata Darmawati Anshar sebagai Sekretaris.
Ridwan menjelaskan, pihaknya melalui Komunitas Bahari Mandar hanya bertugas mengurusi teknis pelaksanaan di laut.
“Untuk urusan cari uang, itu urusan pemprov. Ini juga pola pelaksanaan di 2022 saat melayarkan 34 sandeq ke IKN. Komunitas Bahari Mandar mengurusi kegiatan di laut, pemprov yang menggalang dana,” jelasnya.
Ia pun berharap pemerintah provinsi saat ini tetap bertanggung jawab, meski kepemimpinan sudah berganti.
“Harapan kami, meski sekarang gubernurnya berbeda, tapi karena dulu atas nama Pemprov Sulbar, pemerintah sekarang harus ikut bertanggung jawab untuk melunasi utang ke nelayan atau pemilik kapal. Kasihan mereka,” tutup Ridwan. (*)






