SDK Ingin Kampus Kuasai Teknologi LTJ saat Orasi Ilmiah di UNM

oleh

Makassar, Mesakada.com – Gubernur Sulbar,  Suhardi Duka (SDK) menginginkan perguruan tinggi mengambil peran besar dalam menguasai teknologi pengolahan logam tanah jarang (LTJ atau rare earth, menyusul Sulbar memiliki potensi sumber daya mineral yang besar tersebut.

Hal itu disampaikan SDK saat memberikan orasi ilmiah pada acara wisuda Universitas Negeri Makassar (UNM), Kamis (20/8/2026). Ia menilai LTJ bukan sekadar komoditas pertambangan, tetapi telah menjadi salah satu sumber daya strategis yang berkaitan langsung dengan perkembangan teknologi dan geopolitik dunia.

Menurut SDK, persaingan penguasaan tanah jarang saat ini semakin penting karena mineral tersebut dibutuhkan dalam berbagai pengembangan teknologi modern. Negara yang mampu menguasai cadangan sekaligus teknologi pengolahannya dinilai memiliki posisi strategis dalam percaturan global.

“Yang menjadi rebutan dunia adalah yang dikenal dengan mineral kritis, yaitu rare earth atau biasa disebut tanah jarang,” ujar SDK.

Ia menyebut Sulbar memiliki potensi tanah jarang berdasarkan hasil penelitian. Deposit yang ditemukan disebut memiliki jumlah besar dan kualitas yang dinilai baik. Kondisi tersebut membuat Sulbar berpotensi tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga memiliki arti strategis dalam konteks global.

“Sesungguhnya Sulbar adalah masa depan Indonesia dan masa depan dunia. Siapa yang menguasai tanah jarang atau rare earth, itulah yang memainkan geopolitik dunia,” tegasnya.

Namun, SDK mengingatkan bahwa besarnya kandungan tanah jarang tidak otomatis menjadikan Indonesia memiliki kekuatan dalam industri mineral kritis. Tantangan terbesar justru berada pada kemampuan mengolah dan memisahkan unsur-unsur tanah jarang tersebut.

“Memiliki kandungan saja tidak cukup untuk bisa memainkan geopolitik. Kita juga harus menguasai teknologi,” katanya.

Karena itu, ia secara khusus meminta perguruan tinggi ikut menjawab tantangan penguasaan teknologi tanah jarang. Kampus dinilai memiliki kapasitas riset dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan teknologi pemisahan serta pengolahan mineral tersebut di dalam negeri.

“Pertanyaan bagaimana dengan penguasaan teknologi, saya kira geopolitik itu harus dijawab oleh perguruan tinggi karena memiliki kandungan saja tidak cukup,” tuturnya.

Ia mencontohkan China yang telah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dalam penguasaan tanah jarang, bukan hanya karena memiliki cadangan, tetapi juga karena menguasai teknologi pengolahannya. Menurutnya, Indonesia harus belajar dari kondisi tersebut agar tidak kembali berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah.

SDK menilai penguasaan teknologi tanah jarang dapat menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk memperkuat riset dan inovasi nasional. Kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan dunia industri dinilai penting agar potensi mineral kritis Sulbar dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Di hadapan para wisudawan UNM, ia menegaskan bahwa generasi muda harus disiapkan untuk menghadapi perubahan geopolitik yang semakin dipengaruhi oleh penguasaan sumber daya strategis dan teknologi. Potensi tanah jarang Sulbar, kata dia, harus menjadi peluang untuk membangun kekuatan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.