Dalam logika, inilah yang disebut overgeneralisasi: menarik kesimpulan tentang kelompok yang sangat luas berdasarkan contoh yang terbatas.
Jika memang ada wartawan yang menjadi “londo ireng”, tunjukkan siapa orangnya, medianya, dan apa buktinya. Jangan mengubah dugaan terhadap segelintir orang menjadi stigma terhadap seluruh profesi.
Kedua, false dilemma.
Pidato itu juga membangun kesan seolah hanya ada dua pilihan: mendukung pemerintah atau menjadi “londo ireng”.
Jika media memberitakan sekolah yang roboh, berarti membenci pemerintah. Jika media mengkritik program Makan Bergizi Gratis, berarti sedang melayani kepentingan asing. Jika LSM mengkritik kebijakan negara, berarti mereka bukan bagian dari kepentingan nasional.
Padahal, demokrasi tidak mengenal pilihan sesempit itu. Pers tidak bekerja untuk pemerintah. Pers juga tidak bekerja melawan pemerintah. Pers bekerja untuk publik.
Ketika media memberitakan sekolah yang masih roboh, itu bukan berarti menutup mata terhadap ribuan sekolah yang telah diperbaiki. Justru di situlah fungsi jurnalistik dijalankan: mengawasi kekuasaan dan mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai.






