Pendapatan Tukang Bentor Polman Anjlok Imbas BBM Langka dan Mahal

oleh
oleh

Wonomulyo, Mesakada.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tidak hanya membuat warga harus mengantre panjang. Pengemudi becak motor (bentor) ikut terpukul karena sulit mendapatkan bensin, harga di pengecer melonjak, sementara pembelian di SPBU dibatasi.

Kondisi itu membuat aktivitas sejumlah pengemudi bentor di Wonomulyo terganggu. Mereka terpaksa mengurangi waktu beroperasi karena tidak memiliki cukup BBM untuk mengantar penumpang. 

Sejumlah pengemudi yang biasanya mangkal di depan Masjid Merdeka, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Wonomulyo, kini lebih jarang terlihat. Kelangkaan BBM membuat mereka harus menghitung ulang biaya operasional sebelum membawa bentornya mencari penumpang.

Masalah semakin berat setelah Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menerapkan pembatasan pembelian BBM melalui surat edaran. Kendaraan roda dua dibatasi membeli BBM maksimal Rp35 ribu, sedangkan kendaraan roda empat maksimal Rp200 ribu.

Bagi pengemudi bentor, pembatasan itu dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan operasional. Apalagi wilayah pelayanan mereka tidak hanya di sekitar Wonomulyo, tetapi juga hingga Polewali.

Alling, salah seorang pengemudi bentor di Wonomulyo, mengatakan jatah Rp35 ribu tidak cukup untuk menunjang aktivitasnya mengangkut penumpang dalam sehari.

“Tidak cukup kalau Rp35 ribu. Tidak cukup dipakai, Pak,” kata Alling kepada Mesakada.com, Sabtu (12/9/2026).

Menurutnya, kesulitan BBM juga berimbas pada jumlah penumpang yang bisa dilayani. Antrean panjang di SPBU membuat waktu banyak terbuang, sedangkan membeli BBM di pengecer membuat biaya operasional membengkak.

“Gara-gara bensin jadi terhambat ki cari muatan. Bukan cuma Wonomulyo, bisa sampai ke Polewali antar penumpang. Kurang muatan sekarang, Pak,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, Alling terpaksa membeli BBM dari pengecer agar bentornya tetap bisa beroperasi. Harga yang harus dibayar jauh lebih mahal dibandingkan harga di SPBU.

Ia menyebut harga BBM di tingkat pengecer berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per botol. Bahkan, ia mengaku tetap akan membeli meski harganya mencapai Rp50 ribu karena jika tidak memiliki bensin, bentornya tidak bisa digunakan untuk mencari penghasilan.

“Kalau tidak di pengecer tidak jalan ki itu. Biar Rp50 ribu kita beli juga bensin. Karena mau tidak mau, harus dibeli dengan harga begitu. Tidak beli ki, tidak jalan bentor. Nah, biar mahal beli ki juga,” katanya.

Persoalan BBM itu akhirnya menghantam langsung pendapatan harian Alling. Sebelum kelangkaan terjadi, ia mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp150 ribu dalam sehari.

Kini, pendapatannya merosot hingga hanya sekitar Rp50 ribu dari pagi sampai sore. Penurunan tersebut terjadi ketika biaya mendapatkan BBM justru semakin mahal dan kesempatan mendapatkan penumpang semakin sedikit.

“Baru Rp50 ribu dari pagi sampai sore. Biasanya saya dapat Rp150 ribu per hari,” pungkasnya.

Bagi pengemudi bentor, kelangkaan BBM kini menjadi persoalan berlapis. Mereka harus menghadapi antrean dan pembatasan pembelian di SPBU, membeli BBM dengan harga lebih mahal di pengecer, sementara jumlah penumpang yang bisa dilayani justru menurun. Pendapatan anjlok, tetapi biaya untuk tetap bekerja semakin tinggi. (ifn/ajs)

No More Posts Available.

No more pages to load.