Dalam pendahuluan kajiannya disebutkan bahwa sumber-sumber sejarah Mamuju sangat terbatas, banyak lontaraq telah hilang atau musnah, sementara sejarah Mamuju hingga kini masih sangat bergantung pada tradisi lisan sehingga memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Kajian ini diterbitkan dalamJurnal Walasuji, Volume 10, No. 2, Desember 2019.
Justru ini yang menjadi persoalan besar, soal historiografi Mamuju. Sampai saat ini belum banyak penelitian komprehensif yang menguji secara kritis tradisi-tradisi tersebut. Arsip kolonial memang memberikan informasi mengenai struktur pemerintahan swapraja pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, tetapi tidak menjelaskan secara rinci periode awal terbentuknya kerajaan.
Tradisi lisan tentu memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Namun, dalam metodologi sejarah modern, tradisi lisan bukanlah bukti yang dapat langsung diterima sebagai fakta. Ia merupakan sumber awal yang harus diuji melalui kritik sumber (source criticism), diverifikasi dengan arsip, lontaraq, data arkeologi, filologi, linguistik, antropologi, serta dibandingkan dengan sumber-sumber sezaman.
Tradisi lisan mesti ditempatkan sebagai hipotesis sejarah yang terus diuji. Akan jadi persoalan jika satu versi tradisi lisan diangkat menjadi narasi resmi pemerintah tanpa melalui proses pengujian akademik yang memadai. Maka yang dibutuhkan Mamuju saat ini bukan sekadar perayaan hari jadi yang semakin meriah, melainkan sebuah proyek besar penulisan sejarah daerah yang melibatkan sejarawan, arkeolog, antropolog, filolog, ahli bahasa, serta para pemangku adat dari seluruh wilayah Kabupaten Mamuju. Tanpa fondasi penelitian yang kuat, sejarah resmi terancam jadi dongeng atu legenda sebab bertumpu pada legitimasi tradisi, bukan pada verifikasi ilmiah.
Berbagai jenis sumber Sejarah, seperti tradisi lisan, lontaraq, arsip kolonial, data arkeologi, linguistik, hingga kajian antropologi, harus dibakar dalam sebuah sintesis ilmiah yang utuh. Historiografi modern menuntut dialog antar sumber agar setiap narasi dapat diuji, dibandingkan, dan direkonstruksi secara kritis, sebab sejarah resmi bukan sekadar kumpulan cerita yang diwariskan turun-temurun, melainkan hasil rekonstruksi ilmiah yang terbuka terhadap pengujian, koreksi, dan penemuan baru.
Sudah saatnya Mamuju membangun historiografi yang lebihinklusif, lebih kritis, dan lebih terbuka terhadap berbagai sumber sejarah. Sebab sejarah daerah tidak boleh hanya menjadi cerita tentang siapa yang paling dahulu atau siapa yang paling berkuasa, melainkan ikhtiar ilmiah untuk memahami perjalanan bersama seluruh masyarakat yang membentuk Kabupaten Mamuju.
Maka di akhir tulian ini, saya menegaskan bahwa Kabupaten Mamuju memerlukan proyek historiografi yang lebih komprehensif. Penulisan sejarah daerah idealnya melalui pendekatan multidisipliner, agar sejarah Mamuju tidak lagi dipahami sebagai sejarah satu kerajaan atau satu tradisi lisan, melainkan sebagai sejarah kolektif yang dibangun oleh berbagai komunitas, kerajaan, dan kebudayaan yang selama berabad-abad membentuk wajah Kabupaten Mamuju seperti yang dikenal saatini.
Pada akhirnya saya mengucapkan, selamat hari jadi Mamuju ke486, Tahun 2026.
–––––––––––––––––––––––––––––––
Artikel ini merupakan bagian dari ikhtiar penulis untuk membangun historiografi Kabupaten Mamuju yang lebih inklusif, multidisipliner, dan berbasis kritik sumber.





