Ketika yang terus diperingati hanyalah Mamuju sebagai simbol sejarah kabupaten, publik dapat dengan mudah menganggap bahwa sejarah Kabupaten Mamuju identik dengan sejarah Kerajaan Mamuju. Padahal, Kabupaten Mamuju merupakan hasil penyatuan berbagai entitas sejarah yang sama-sama berkontribusi membentuk identitas daerah menjadi Kabupaten Mamuju. Artinya, sejarah Tapalang, Kalumpang, Padang juga merupakan bagian yang sama pentingnya dalam membentuk wajah Kabupaten Mamuju, hari ini.
Persoalan representasi sejarah semakin menarik apabila menelusuri narasi asal-usul permukiman di wilayah Mamuju. Bahkan di dalam tradisi lokal, sejarah Mamuju tidak pernah berdiri sebagai kisah tunggal. Dalam tradisi lisan, kawasan Padang sering dipandang sebagai salah satu permukiman tertua di wilayah ini. Riwayat tersebut mengisahkan bahwa kawasan Padang mula-mula dihuni oleh seorang tokoh bernama Daeng Lumalle, yang dikenal sebagai Tau Pitu. Dari komunitas awal inilah kemudian berkembang struktur permukiman yang menjadi salah satu fondasi awal masyarakat Mamuju.
Sementara, wilayah yang kemudian dikenal sebagai Mamuju dikisahkan bermula dari kedatangan seorang tokoh bernama Makkedaeng, tokoh yang dalam tradisi lokal disebut Tau Sappulo Mesa. Dalam sejumlah riwayat tutur, Makkedaeng bahkan disebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Daeng Lumalle, yakni sebagai keponakannya. Narasi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan Mamuju bukanlah proses yang terpisah dari Padang, melainkan berkembang melalui hubungan genealogis.
Terlepas dari benar atau tidaknya detail tradisi lisan tersebut,namun menurut ukuran historiografi modern, cerita-cerita tersebut memiliki nilai penting sebagai memori kolektif masyarakat. Tradisi lisan bukan hanya menyimpan kisah asal-usul, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami identitas, hubungan kekerabatan, dan pembentukan ruang hidup mereka.
Pertanyaan kritisnya adalah, mengapa representasi sejarah yang rutin dibiayai APBD Mamuju hanya berpusat pada satu kerajaan? Pertanyaan ini tentu tidak berpretensi mengerdilkan arti sejarah Kerajaan Mamuju, akan tetapi menegaskan bahwa, sejarah Tapalang, Kalumpang, Padang, Simboro, dan daerah-daerah adat penyangga lainnya merupakan bagian yang sama pentingnya dalam membentuk Kabupaten Mamuju.
Apabila narasi Hari Jadi Mamuju hanya menampilkan satu simpul sejarah, maka memori kolektif masyarakat akan perlahan menyempit. Generasi mendatang bisa saja tumbuh dengan pemahaman bahwa sejarah Kabupaten Mamuju identik dengan sejarah Kerajaan Mamuju, padahal realitas historisnya jauh lebihkan a dan lebih kompleks.
Maka yang dibutuhkan bukan menghapus Hari Jadi Mamuju, melainkan memperluas narasi sejarahnya agar lebih inklusif. Pemkab Mamuju dapat menjadikan momentum hari jadi sebagai perayaan seluruh warisan sejarah daerah, dengan memberi ruang yang layak bagi Tapalang, Kalumpang, Bonehau, Padang, Tommo, termauk Balabalakang, dan komunitas-komunitas adat lainnya. Sejarah haram menjadi milik satu Kerajaan atau komunitas adat. Sejarah adalah milik seluruh masyarakat yang hidup di atas tanah yang sama.
Sudah sepatutnya Pemkab Mamuju menata ulang narasi Hari Jadi Mamuju agar benar-benar mencerminkan Mamuju secara utuh, akomodatif terhadap semua entitas adat yang hidup di dalamnya, bukan malah terkesan menggenosida eksistensi wilayah adat atau Kerajaan yang berdiri di dalamnya. Sebab sejarah yang adil bukanlah sejarah yang meninggikan satu identitas, melainkan sejarah yang mampu merangkul seluruh warisan masa lalu sebagai fondasi masa depan.
Mamuju Krisis Historiografi
Persoalan yang lebih mendasar sesungguhnya bukan terletak pada siapa yang lebih tua atau pantas, Padang, Mamuju, Tapalang, atau Kalumpang. Tetapi bagaimana sejarah resmiKabupaten Mamuju dibangun. Sejarah Mamuju yang cenderung berkembang dalam kerangka Mamuju-sentris, menempatkan Kerajaan Mamuju sebagai pusat narasi sejarah, padahal, secara akademis konstruksi tersebut menyisakan banyak persoalan metodologis.
Sebagian besar narasi mengenai asal-usul Kerajaan Mamuju, silsilah tokoh-tokohnya, maupun kisah-kisah awal pembentukannya bertumpu pada tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi daripada bukti-bukti primer yang dapat diverifikasi. Kondisi ini diakui oleh Syahrir Kila, peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, saat menyusun kajian tetang awal terbentuknya Kerajaan Mamuju.





